Tulis jawaban

Peringatan: topik ini belum dituliskan setidaknya 120 hari.
Kecuali Anda yakin ingin menjawabnya, harap pertimbangkan untuk memulai sebuah topik baru.
Nama:
Email:
Subyek:
Tags:

Seperate each tag by a comma
Ikon pesan:

Anti-spam: complete the task

jalan pintas: tekan alt+s untuk mengirim/menulis atau alt+p untuk meninjau


Ringkasan Topik

Ditulis oleh: Stash
« pada: 16 November 2013, 10:29:02 »

Aku ya lupa, cuma seingatku mario teguh. Tapi kalau kamu coba ngobrol-ngobrol dengan orang-orang senior, rata-rata pesannya mirip :nikahlah di usia muda. Alasan? Kalau sudah punya istri (dan anak), kita bakal lebih giat kerjanya. Kalau masih single atau cuma sekedar pacaran, kerja ya santai. Pengeluaran juga masih banyak. Contoh aja, beberapa temanku baru saja tour ke eropa selama 2 minggu, bayar sendiri. Atau temanku yang lain, rasanya tiap bulan travelling ke luar negeri. Mereka kerjanya di Singapur sih jadi gaji emang lumayan besar, dan mungkin ngambil paket tur yang kebetulan lagi promo. Tapi tetap saja, uang tetap keluar dari rekening :D
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 16 November 2013, 09:54:42 »

Oooo, kalau Om Mario no comment deh :D soalnya yang muncul di Google+-ku ga bilang sumbernya dari Mario Teguh, tapi nama lain yang asing... Adriano Rusfi siapa ya?
Ditulis oleh: Stash
« pada: 16 November 2013, 12:46:57 »

Dari Mario Teguh. Kemarin temanku ada bagi di whatsapp. Kalau aku bilang, ada benarnya juga pesan itu. Mapan atau tidak mapan, kita pasti ada masalah, tapi cara menanganinya pasti beda. Tahu sendiri kalo orang super kaya nabrak, cukup kasih santunan, beres deh. Beda dengan orang biasa kalau nabrak, bisa masuk penjara. Di contoh ini saja sudah jelas terlihat akan ada 2 cara pikir berbeda, yang satu akan nyetir hati-hati karena dia tahu resikonya kalau nabrak, yang satu nyetir seenaknya karena dia tahu orang tuanya yang akan membereskan segalanya.
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 15 November 2013, 09:18:42 »

Ada pemikiran begini nih (nongol di Sedang Hangat-nya Google+-ku):

Kutip
"Anak muda ...
Menikahlah sebelum mapan. Agar anak-anak anda dibesarkan bersama kesulitan-kesulitan anda. Agar anda dan anak-anak anda kenyang merasakan betapa ajaibnya kekuasaan Allah.

Jangan sampai anda meninggalkan anak anak yang tak paham bahwa hidup adalah perjuangan."

Kok aku punya kesan seakan-akan kalau kita mapan berarti nggak punya kesulitan ya?
Ditulis oleh: Stash
« pada: 14 November 2013, 12:33:46 »

Lupakah kamu dengan anak kita....... T.T
Ditulis oleh: azstreet
« pada: 13 November 2013, 10:56:01 »

Terbukti sudah aku ga tau pemiliknya siapa :P

Hayo ya kk Stash... :P
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 13 November 2013, 10:44:59 »

Dia pengalaman soalnya :D bukan yang itu, sebelahnya lagi, yang pojok itu lho, kan besar tuh :P pemiliknya udah resign
Ditulis oleh: azstreet
« pada: 13 November 2013, 04:26:09 »

@kk Exshan : sebelah? Aku taue tempat lemari server... punya P. Nj bukan ya?

Waduh usulnya kk Stash ini bahaya :P
Ditulis oleh: Stash
« pada: 12 November 2013, 01:18:41 »

Gpp, punya anak dulu baru nyari pasangan (nah lho :D)
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 11 November 2013, 10:52:28 »

Jadi ingat, salah satu rekan kerjaku malah bikin separuh kubikelnya untuk tempat leyeh-leyeh anaknya dengan ngasih kasur lipat. Nanti kalau sudah balik sana, semoga kubikel sebelahku (Claire pasti tahu punya siapa) belum ada yang nempati, ukurannya tiga kali lebih besar :D

Dan bahkan aku belum tahu siapa yang jadi pasangan hidup, ini udah siap-siap punya anak :P
Ditulis oleh: azstreet
« pada: 11 November 2013, 10:34:41 »

Diskriminasi dong kalau cowok ga boleh :P
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 11 November 2013, 10:13:08 »

Kalau bayi iya lah dirawat sendiri... penitipan anak itu semacam pre-school juga kok, jadi sekalian bermain sambil belajar. Kantorku untungnya sih ga terlalu ambil pusing kalau ada yang bawa anak ke kantor, malah sini biasanya ikut main-main juga pas nganggur. Selama ini itu sih yang dilakukan rekan kerja kantorku, khususnya yang cewek. Pagi bawa anaknya ke tempat penitipan, sore dijemput. Rasanya cuma itu solusinya kalau mau dua-duanya tetap bekerja di kantor. Usaha di rumah pun bisa jadi kadang kita malah keasyikan mantengi komputer untuk orderan, atau sibuk melayani pembeli di toko, sampai ga tahu kalau si bayi tiba-tiba sudah di ujung ranjang. Balik ke orangnya lah, mau seberapa besar menyayangi anak sendiri. Lagian, kalau orang tua bisa menyamakan diri (atau lebih akrab) dari pengasuh, kurasa ga ada masalah mau dititipkan.

Fasilitas kantor harus dimanfaatkan sebaik-baiknya :P cuma ga tahu sih aku boleh gak pakai, setahuku cuma cewek yang biasa nitipin anak ke sana :D bisa juga sekalian nanya-nanya ke sana saran untuk membesarkan anak :)
Ditulis oleh: Stash
« pada: 11 November 2013, 09:56:14 »

Yang aku impikan sih, yang pasti istri sebisa mungkin selalu berada di rumah dengan anak. Dia mau bisnis? Bisnis lha di rumah. Mungkin buat home industry, atau online shop, atau toko di rumah.

Ya, ada penitipan anak, tapi aku berprinsip sebisa mungkin orang tua harus ada untuk membesarkan si anak, karena masa-masa bayi begitu malah masa-masa paling rentan buat mereka. Mudah sakit, mudah luka, organ masih lemah, dan mereka masih belajar mengenali orang-orang. Jangan sampai mereka lebih suka sama pengasuh di penitipan anak dibanding orang tuanya sendiri :)
Ditulis oleh: azstreet
« pada: 11 November 2013, 08:32:07 »

Setuju :P iya ya di Ubaya ada penitipan anak di FP. Baru inget~

Aku sendiri sih berpikiran kalau bisa kerja itu yang bisa mendukung kerjaan suami. Lebih enak lagi kalau bisa dilakukan dari rumah :P
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 08 November 2013, 09:21:36 »

Lha dirimu sendiri gimana? Kurasa jawabannya buat kita berdua sudah jelas :D

Aku sih terserah kalau nanti istriku mau bekerja juga, kan enak jadinya penghasilan ganda. Kalau punya anak, sebisa mungkin dijaga sendiri dulu. Aku sudah melihat sendiri hasilnya ketika anak dititipkan mertua, jadi aku ga mau seperti itu (dan mamaku sendiri sudah bilang mungkin dia nggak bakal sanggup njagain anakku). Toh, kalaupun nggak sanggup, di kantor ada tempat penitipan anak (dan kebetulan sekali dikelola oleh fakultas psikologi), jadi ga perlu khawatir deh :)