Tulis jawaban

Peringatan: topik ini belum dituliskan setidaknya 120 hari.
Kecuali Anda yakin ingin menjawabnya, harap pertimbangkan untuk memulai sebuah topik baru.
Nama:
Email:
Subyek:
Tags:

Seperate each tag by a comma
Ikon pesan:

Anti-spam: complete the task

jalan pintas: tekan alt+s untuk mengirim/menulis atau alt+p untuk meninjau


Ringkasan Topik

Ditulis oleh: kaira08m@yahoo.com
« pada: 21 Mei 2015, 11:31:03 »

Ya itu benar bekerja terlalu kerjas memang sangat menguras energi dan tenaga, akibatnya waktu tidur ( yang seharusnya beristirahat memulihkan tenaga) menjadi berkurang, otomatis itu akan berpengaruh kepada kemampuan kita dalam bekerja. Ya walaupun upah yang dibayarkan tidak seberapa (murah) tapi tetap disyukuri saja.
Ditulis oleh: Stash
« pada: 17 Desember 2013, 09:26:51 »

Susah sih, karena kalo mau dirunut, sumber pemberi tekanan adalah kliennya. Kalau kamu bilang "Selesai tanggal xx", ya harus selesai tanggal segitu. Kalo telat, bisa rame. Jadi klien kasih tekanan ke pemimpin perusahaan, ya pemimpin perusahaan ngasih tekanan ke pegawainya. Kalo klien kan berpikiran "Aku yang punya uangnya, jadi aku mau keinginanku dipenuhi"
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 16 Desember 2013, 06:54:10 »

Makanya aku gak mau kerja di Singapur atau negara-negara besar yang sudah terbukti workaholic :D dulu sempat sih bawa kerjaan ke rumah, koreksian terutama, saking banyaknya kudu dicicil di rumah. Ya mungkin asal bisa sadar diri aja lah ya.

Makanya di artikel itu ada yang berpandangan, ga cuma kita sebagai pekerja yang harus memikirkan hal ini, tapi juga para pemberi kerja, supaya tidak terlalu mengagung-agungkan budaya lembur. Kecuali tenaga kerjanya mesin, ya gak masalah :D
Ditulis oleh: Stash
« pada: 16 Desember 2013, 06:35:50 »

Aku baru lihat di Facebookku. Secara teori, mudah mengatakan "Kita gak dibayar untuk mengerjakan pekerjaan di rumah". Tapi ketika kamu berada di lingkungan kerja dimana "Kalau pekerjaan tidak selesai sesuai batas waktu, artinya kamu yang tidak kompeten" (yang setahuku menjadi motto utama perusahaan-perusahaan di Singapur), susah untuk tidak bekerja lembur. Walau harus diakui, dari cerita-cerita orang yang harus lembur gila-gilaan, baru kali ini aku dengar orang bekerja tiga hari non-stop.....
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 16 Desember 2013, 10:49:09 »

Kabar ini baru beberapa hari beredar di Twitter dan Path (berhubung aku ga pakai keduanya, baru kemarin nyampai di FB). Seorang penulis meninggal akibat kombinasi fatal bekerja tiga hari tanpa henti dan minuman energi Kratingdaeng. Ini jadi pengingat untuk kita semua, jangan bekerja terlalu keras. Kerja keras itu baik, tapi untuk siapa? Tahu batasan lah. Jadi, ini dijadikan pengingat saja buat yang suka kerja lembur sampai tidak tidur dan mengandalkan minuman energi.

Aku sih sudah mulai membiasakan untuk tidak membawa kerjaan ke rumah. Sudah banyak yang mengatakan, begitu kerjaan dibawa ke rumah, batasan itu lama-lama akan bergeser: rumah juga dipakai untuk bekerja. Apakah pekerja kantoran dibayar ketika membawa kerjaannya ke rumah? Tidak kan? Jadi, biarkan pekerjaan tetap berada di kantor, setidakselesai apapun itu. Banyak hal yang lebih berharga ketimbang pekerjaan. Kalau pekerja rumahan? Ya pandai-pandai atur diri lah, kapan jam kerja, kapan jam santai.
anything