Penulis Topik: Asumsimu, kenyataanmu  (Dibaca 1119 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Èxsharaèn

  • Pölisia mar Ranch-i-ru
  • Administrator
  • Lv 9 Petualang senior
  • ************
  • Tulisan: 5.650
  • Karma: 8
  • Jenis kelamin: Pria
  • Veni, veni, venias; ne me mori facias...
  • Sistem Operasi:
  • Windows 8.1 Windows 8.1
  • Peramban:
  • Chrome 30.0.1599.101 Chrome 30.0.1599.101
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • RPG Fantasy Web Indonesia
Asumsimu, kenyataanmu
« pada: 25 Oktober 2013, 02:21:16 »
Aku pernah baca buku The Secret, walaupun nggak tuntas, ada satu hal yang membuatku mengubah cara pandang terhadap dunia saat itu. Kata buku itu, pikiran kita sendiri lah yang menentukan hal-hal yang akan datang ke diri kita. Kalau kita sering berpikir positif, maka hal-hal positif akan tertarik ke arah kita. Sebaliknya, kalau kita sering berpikir negatif, itulah yang akan kaudapatkan.

Ada seorang temanku, sesama pemain di DN SEA, katakanlah si A, yang punya sifat ini: terlalu cepat berasumsi alias mengambil kesimpulan. Contoh paling dasar lah, kalau BBM-an. Begitu aku nggak jawab dalam beberapa menit, dia pasti kirim pesan, "Sibuk ya?" Apakah aku harus sibuk untuk tidak menjawab pesanmu? Dari dulu aku punya kebiasaan untuk memasang status yang benar-benar menandakan tingkat kesibukanku: tersedia, sibuk, tidak bisa dijangkau, jangan diganggu, atau sedang charge BB. Tapi ya itu, kalau nggak kujawab sebentar saja, kalimat itu keluar.

Yang paling baru, dia memang sering kuomeli kalau melakukan kesalahan dalam permainan, misalnya salah pencet. Tapi, akhirnya dia berasumsi, "di matamu aku mana pernah bener sih?" Terakhir, sempat terjadi pergeseran dalam rutinitas sehari-hari. Biasanya, tiap hari kami akan melakukan tugas harian yang jumlahnya tidak selalu sama, kadang dua atau tiga. Tugas harian ini harus diambil di NPC. Nah, berhubung aku sering disconnect kalau pindah area, akhirnya kami kebiasaan pakai teknik summon: salah satu buat kelompok terlebih dahulu dan keluar, baru memanggil satu per satu yang lain. Ketika dipanggil seperti itu, seseorang bisa menjawab ya atau tidak. Setelah aku dan seorang lagi dipanggil, akhirnya dia dipanggil. Ups, sudah muncul di luar kota, ternyata dia belum ambil tugas itu. Ya aku berkomentar, "gitu kok dijawab ya pas dipanggil..." Kan bisa saja nolak dulu, lalu bilang di chat guild, "eh bentar, aku belum siap, belum ambil tugas." Seorang lagi tertawa, tapi lalu si A ini nulis, "di matamu aku mana pernah bener sih?" Lho, siapa yang nuduh itu salah? Mungkin sekilas memang salah, tapi ya nggak masuk akal lah menyatakan diri siap tapi ternyata ada yang ketinggalan...

Well, kalau memang itu yang kau mau, aku bisa kok selalu memandangmu salah dalam semua hal :D

Lain cerita, aku memang mencoba berpikir positif terhadap semua hal. Misalnya, gara-gara nilai jelek, aku terpaksa harus menempuh semester ketiga. Tapi mungkin memang harus begitu, karena ternyata ada temanku yang nyusul, dan dia melakukan kesalahan yang sama, walaupun nggak sefatal diriku. Atau mungkin memang aku harus melakukan sesuatu terlebih dulu sebelum selesai studi, dan ternyata memang ada temanku yang lain yang nyusul ke sini (walaupun beda sekolah). Ada yang mengatakan itu overconfident, ada yang bilang nggak realistis, karena kehidupan ini nggak selalu positif. Memang benar, tapi apa lantas kita harus selalu berpikir negatif? Dunia ini auranya sudah terlalu negatif, ngapain kita membuang energi untuk menciptakan hal-hal yang semakin negatif? Di sisi lain, kadang-kadang aku lebih suka berpikir worst case scenario ketimbang berpikir optimis. Mungkin beberapa juga punya pikiran seperti ini, dengan alasan supaya nggak kecewa kalau ternyata keinginannya nggak terwujud.

Aku rada bingung juga sih menghadapi seseorang yang terlalu sering berasumsi tentang diriku. Yang paling sering, oleh orang sini aku diasumsikan pasti bisa berbahasa Cina, padahal nggak. Jujur aja, aku juga sering kok berasumsi tentang seseorang, misalnya Pinoy itu "unik" karena sejauh ini pertemuanku dengan mereka nggak ada yang berjalan mulus. Jadi, baikkah berasumsi tentang seseorang? Gimana kalau kalian diasumsikan sesuatu oleh seseorang, apa kalian akan mewujudkannya atau berusaha membuktikan bahwa asumsi itu salah besar?
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
WAYN http://Exsharaen.wayn.com
About.me http://about.me/hoshiro.exsharaen

Offline Stash

  • The Sentinel of Volcano
  • Kru RPGFWID
  • Lv 7 Ahli
  • ******
  • Tulisan: 3.205
  • Karma: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Journey Never Ending
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • Catatan Stefano
Re:Asumsimu, kenyataanmu
« Jawab #1 pada: 25 Oktober 2013, 09:12:28 »
Dari pengalamanku, membaca sebuah pesan di hp atau komputer akan mempunyai efek berbeda dengan kalau aku mendengarkab secara langsung. Kenapa? Karena intonasinya. Dari intonasi, orang bisa menduga apa maksud dibalik kalimatnya. Ketika kamu cuma membaca saja, terlebih baca pesan dari orang yang gak pernah kamu temui langsung, maka kamu otomatis berasumsi apa intonasi yang dipakai lawan bicaramu.

Kalau seseorang berasumsi tentang kita, kita gak bisa berbuat apa-apa. Dan mencoba membuktikan kalau itu salah pun agak gak efektif, karena orang itu akan berpikir kalau kita cuma sedang berpura2. Dia harus mengalami langsung dan benar-benar merasakan kalo kita tulus, baru deh dia bisa meruntuhkan asumsinya itu. Dan agak susah melakukan hal itu kalo cuma lewat internet :D
Twitter ID : stefano1003
Facebook : http://www.facebook.com/stefano.ariestasia
Google+ : stefano.ariestasia
Blog : http://catatanstefano.wordpress.com

Offline Èxsharaèn

  • Pölisia mar Ranch-i-ru
  • Administrator
  • Lv 9 Petualang senior
  • ************
  • Tulisan: 5.650
  • Karma: 8
  • Jenis kelamin: Pria
  • Veni, veni, venias; ne me mori facias...
  • Sistem Operasi:
  • Windows 8.1 Windows 8.1
  • Peramban:
  • Chrome 30.0.1599.101 Chrome 30.0.1599.101
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • RPG Fantasy Web Indonesia
Re:Asumsimu, kenyataanmu
« Jawab #2 pada: 25 Oktober 2013, 01:26:49 »
Berarti pada harus pakai Skype semua dong sekarang biar ga ada salah paham :D
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
WAYN http://Exsharaen.wayn.com
About.me http://about.me/hoshiro.exsharaen

Offline Stash

  • The Sentinel of Volcano
  • Kru RPGFWID
  • Lv 7 Ahli
  • ******
  • Tulisan: 3.205
  • Karma: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Journey Never Ending
  • Sistem Operasi:
  • Windows 7/Server 2008 R2 Windows 7/Server 2008 R2
  • Peramban:
  • Chrome 30.0.1599.101 Chrome 30.0.1599.101
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • Catatan Stefano
Re:Asumsimu, kenyataanmu
« Jawab #3 pada: 25 Oktober 2013, 02:56:07 »
iya. usulin sana ke GMnya DN :D
Twitter ID : stefano1003
Facebook : http://www.facebook.com/stefano.ariestasia
Google+ : stefano.ariestasia
Blog : http://catatanstefano.wordpress.com

Offline Clâiré

  • Lv 5 Rata-rata
  • *****
  • Tulisan: 1.270
  • Karma: 0
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Only the best of you deserve me.
  • Sistem Operasi:
  • Windows XP Windows XP
  • Peramban:
  • Firefox 33.0 Firefox 33.0
  • Bergabung sejak: 31/01/2010
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
Re:Asumsimu, kenyataanmu
« Jawab #4 pada: 10 November 2014, 02:18:40 »
Giliranku revive topik lama  ^^; berhubung tadi ga sengaja baca-baca di sini, jadi inget curcolku sama kk Exshan  :P

Aku sebetulnya juga sering berasumsi (yang buruk) tentang seseorang, tapi biasanya itu cuma kalau dia sudah terlalu sering melakukan hal itu. Ada 2 kasus yang aku ingat betul:

Yang pertama, ke seorang temanku seangkatan, sebut saja si A (niru yah, daripada kusebut Mawar  ;D ).
Entah kk Exsharaen inget ga  :P yang jelas waktu itu aku heboh sendiri gara-gara mau ambil Game Development dan ga mau sekelompok sama dia.
Alasanku? Dari pengalaman kelompok di semester-semester sebelumnya, kalau aku cuma berdua dengannya, pembagiannya selalu seperti ini: aku yang ngoding, dia yang ngurus graphic asset dan animasi. Dia sih ngakunya bisa animasi karena sering pegang Flash. Pikirku sih, oke lah, berhubung kemampuan gambarku juga pas-pasan dan waktu itu kebetulan kami bikin kelompok untuk mata kuliah yang berhubungan dengan animasi YANG PERTAMA yang kuambil, jadi kemampuanku nol sama sekali waktu masuk kelas itu  ^^;
Nah, apa yang terjadi? 90% berakhir aku yang ngerjain. Seingatku kalau ga salah dia cuma nyomot gambar yang akhirnya harus aku yang edit lagi untuk dipakai, dan semua coding diserahkan padaku. Udah gitu, masih harus ngajari dia supaya waktu presentasi ga kelihatan kalau aku yang kerja! Ini terulang lagi waktu kelompokku ada empat orang (aku, si A, sisanya sebut B dan C yah  :P ), waktu itu kami sampai harus nginap di rumah si A untuk ngerjain proyek akhir IMK. Apa yang si A lakukan? Tidur. Aku, si B dan si C yang membereskan semua error-error yang masih ada setelah kami gabung semua hasil kerja, termasuk copy-paste frame (kalau ga salah ingat itu bikin PCnya lag betul karena ada 2000+ frame animasi) sampai pagi. Yang paling bikin aku kesal (dan sebetulnya kalau aku ingat-ingat lagi masih bikin mangkel) adalah... si A nyaris tidak menyentuh program tugas itu, tapi nilainya malah A dan aku B  >:(
Nah, salahkah kalau aku berasumsi dia akan mengulangi ini lagi kalau sekelompok denganku? Entah akhirnya GD-nya dapat apa itu, yang jelas aku waktu itu menolak dengan berbagai macam alasan waktu dia minta sekelompok karena ternyata setelah pembagian, dia termasuk kumpulan orang yang tak dapat kelompok...

Ya memang sih sebetulnya orang selalu akan bisa berubah, tapi siapa yang mau jamin kalau aku nggak akan dimanfaatkan lagi?

Kasus kedua, ke teman roleplay-ku yang Pinoy yang disebut-sebut di topik Speak up!... or silence? (http://forum.rpgfantasy.web.id/index.php?topic=752.0) Sebut saja si J.
Ini agak lain, tapi intinya adalah dia duluan yang selalu "menuduh"ku (sebetulnya lebih pas guilt-tripping), dan setelah banyak sekali pertengkaran hebat dan kata-kata tajam dariku, dia ngaku kalau dia memang melakukan itu dengan alasan-alasan tertentu.

[Btw, kalau ga nyaman dengan topik yang berhubungan dengan sexuality, mending lewati aja bagian ini yah...]

(click to show/hide)

Di sisi lain, beberapa bulan lalu juga ada masalah sama korselku sendiri, sebut aja M. Memang di sel yang lama korsel lamaku yang selalu inisiatif nyariin transport untuk ke PD/sel dan aku baru dikabari sore sebelum PD itu. Sel tahun ini sih, korsel yang baru ini maunya mendidik kami untuk mandiri (alias bisa cari nunutan sendiri, krn dia juga ga ada transport sendiri).

Aku bukannya menolak, karena aku tahu memang maksudnya mendewasakan, tapi justru dia yang punya asumsi jelek duluan saat aku tanya. Saat itu jam 1 siang, dan waktu aku tanya masalah ini ke dia (karena jelas dia kenal lebih banyak orang dibanding aku di sana), dia bilang mau bantu untuk cari. Sampai jam 3 sore, aku sudah tanya ke tiga orang selain dia dan semuanya bilang tidak bisa karena ada keperluan masing-masing, dan akhirnya karena dia juga belum mengabariku, jam 5 aku tanya lagi "ce, gimana? ada kah yg bisa dinunuti?" Jawabannya? "lho km kok g tanya drtd? sori, aku wes berangkat. lain kali tolong inisiatif sendiri. jgn selalu ngandalin orang, apalagi waktunya mepet. aku juga ga cuma ngurusi km."
Well hello, aku cuma tanya, dan waktu itu pikiranku cuma bahwa kalau dia juga bilang tidak ada yang bisa, aku akan berangkat sendiri. Jujur aku mangkel luar biasa waktu dijawab seperti itu...

Memang repot yah kalau orang selalu berasumsi, tapi lha aku sendiri juga ga bisa lepas dari asumsi  ^^;
« Edit Terakhir: 10 November 2014, 02:44:24 oleh Èxsharaèn »
Zealyte - Vice Guild Master of Nightblade, Dragon Nest SEA

Ènn il Zealyte, Gravitum i Magia-i-ru èst.


"Ènn vanlaâm chrono èst."

Offline Stash

  • The Sentinel of Volcano
  • Kru RPGFWID
  • Lv 7 Ahli
  • ******
  • Tulisan: 3.205
  • Karma: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Journey Never Ending
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • Catatan Stefano
Re:Asumsimu, kenyataanmu
« Jawab #5 pada: 14 November 2014, 09:22:46 »
Haha. Asumsi itu akan selalu ada. Itu sudah naluri manusia. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha menyeimbangkan asumsi kita dengan fakta-fakta yang ada. Aku gak bilang asumsi itu buruk lho, asal kita sudah mempunyai fakta-fakta yang cukup.

Dalam kasusmu dengan korselmu.... Aku cuma bisa bilang, dia belum bisa menjadi pemimpin yang baik :D

Sayang sekali sih seorang korsel berbicara seperti begitu ke anggota selnya yang baru.
Twitter ID : stefano1003
Facebook : http://www.facebook.com/stefano.ariestasia
Google+ : stefano.ariestasia
Blog : http://catatanstefano.wordpress.com

Tags:
 

Dengan Jawab-Cepat Anda dapat menggunakan kode buletin board dan smiley seperti tulisan normal, tapi jauh lebih menyenangkan.

Peringatan: topik ini belum dituliskan setidaknya 120 hari.
Kecuali Anda yakin ingin menjawabnya, harap pertimbangkan untuk memulai sebuah topik baru.

Nama: Email:
Anti-spam: complete the task
anything