Penulis Topik: Indonesia Milik Siapa?  (Dibaca 1312 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Stash

  • The Sentinel of Volcano
  • Kru RPGFWID
  • Lv 7 Ahli
  • ******
  • Tulisan: 3.205
  • Karma: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Journey Never Ending
  • Sistem Operasi:
  • Windows 7/Server 2008 R2 Windows 7/Server 2008 R2
  • Peramban:
  • Chrome 30.0.1599.101 Chrome 30.0.1599.101
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • Catatan Stefano
Indonesia Milik Siapa?
« pada: 10 November 2013, 12:18:21 »
Aku mau tertawa membaca BM yang lagi beredar di masyarakat yang berjudul "Indonesia Milik Siapa?" (dikirimi exshan). Aku gak bisa salin tempel BMnya karena ribet pindahin dari HP ke laptop, jadi mungkin ntar aku edit dari tapatalk (kalau niat :p).

Inti BM itu, si penulis merasa kalau Indonesia bukan lagi milik orang Indonesia. Benar kah begitu? Dalam penjelasannya dia menjelaskan bagaimana saham perusahaan-perusahaan besar dimiliki oleh asing. Aku malas untuk mengecek kebenaran angka-angkanya, jadi aku akan memberikan fakta kalau orang asing tidak bisa memiliki hak milik atas properti di Indonesia (baca ini). Jadi apakah Indonesia bukan milik orang Indonesia? Secara hak milik tanah, Indonesia masih milik orang Indonesia, termasuk tanah yang dipakai oleh perusahaan asing sekali pun.

Kalau yang dibicarakan adalah uang yang beredar di Indonesia, ya mungkin uang-uang yang beredar di Indonesia banyak dimiliki pihak asing. Tapi bukankah hal yang sama terjadi di semua negara? Tahu kah apa alasan kemarin Amerika Serikat mengalami "kematian pemerintahan" selama beberapa hari? Salah satunya karena Senat menolak menaikkan limit atas utang Amerika Serikat. Ya, Amerika Serikat yang katanya negara nomor satu di dunia pun mempunyai utang dari negara luar. Jadi, pada akhirnya siapa yang terjajah dan siapa yang menjajah?

Aku teringat keramaian di media ketika terungkap seorang ustadz membuka sebuah bisnis patungan. Tahu apa slogannya dia? MEMBELI ULANG INDONESIA. Wow, terdengar hebat ya. Masalahnya, membeli Indonesia dari siapa? Apa yang mau dibeli? Yang aneh lagi, kalau dicermati, sebenarnya bisnis patungan itu sama seperti kita menanam saham. Contoh nyata, dari hasil orang-orang yang menanamkan uangnya ke ustadz itu, mereka sedang membangun hotel. Ya, dia menjanjikan cash back dalam 10 tahun, dan setelah itu tiap tahun akan ada pembagian profit. Yang orang-orang lupakan, tanah hotel itu atas nama siapa? Hotel itu atas nama siapa? Apakah kalian menjadi pemilik hotel itu, atau cuma sekedar orang yang meminjamkan uang kepada ustadz itu, agar dia bisa membuka hotel miliknya (yang mengembalikan uang kalian dalam 10 tahun, plus pembagian untung kalau ada)?
Kutipan promosi si ustadz di websitenya
Kutip
Kalo di PatunganUsaha (PU) Hotel & Apartemen, langsung ada bagi hasil tahunan, dan cashbacknya. Di PA, ga ada bagi hasil tahunan. Yg ada hanya refund/cashback.
Keuntungannya darimana?

Keuntungan pertama, jangan lupa, keberkahan. Kedengerannya klise, he he.
Masa usaha nyari berkah doangan?
Ini dia. Ga ada “doangannya”.

Berkah itu jauh melampaui untung. ‘Alaikum bil jama’ah, begitu Rasulullaah bersabda. “Wajib atas kalian berjamaah, bersatu.”

Allah juga berfirman banyak di Qur’an dan di Hadits Qudsi-Nya u/ bersatu, jaga silaturahim, kebersamaan, berjamaah.

Dengan itu kita jadi kuat. Dan memang masuk akal. Dengan ngumpul-ngumpul yang positif, maka insyaAllah akan ada banyak kebaikan.

Di antara Sahabat PA, masing-masingnya bisa bertemu, bersilaturahim, baik dalam pergaulan dan persahabatan biasa, hingga bisnis. Bisa tuker menuker info, peluang, bantu membantu, hingga saling doa mendoakan.

Saya membayangkan, saya juga atas izin Allah memiliki perkumpulan berkah ini. Perkumpulan PU dan PA.

Misi visi nya sederhana: rame2 bikin&ngembangin usaha, rame2 beli aset. Syukur2 dengan izin Allah, rame2 bisa beli ulang Indonesia. Apa2 yg udah dijual ke asing, kita beli ulang. Apa2 yang akan dijual ke asing, kita yang bayarin. Masuk ke bisnis perhotelan, perbankan, properti, pangan/makanan/kuliner, transportasi darat, laut, udara, oil&gas, coal&mining, dll. Yah, pelan2 dah. Kita sama2 belajar. Belajar untuk terus juga menyempurnakan.

Di PU, kita belajar lewat proyek Hotel&Apartemen Haji&Umrah di deket bandara Soeta, Jakarta.
Di PA, beli tanah 4,7ha di deket bandara juga. Malah deket bandara Soeta juga. Bismillaah dah. InsyaAllah. Nah, keuntungan berikutnya adalah keuntungan investasi. Deket bandara itu potensi dan investasinya bernilai tinggi dan insyaAllah akan bergerak cepat.
Memang kalo di PA ga bagi hasil tahunan kayak di PU. Tapi dalam 1-2th? 3-4th?
Tanah tersebut akan punya selisih besar banget. Kayak pengalaman kami membeli tanah u/ pesantren.

MasyaAllah, di 2008 kami belanja tanah-tanah di seputaran Ketapang, 350rb-an. Baru mulai bangun dikit aja, tanah udah melejit 2x lipatnya. Hingga menembus 1jt. Habis itu? Ga keruan. 2010 ada tanah yg kami beli 800rb. 2011 sebelahnya persis udah 3,5jt per meter.
MaasyaaAllah dah. Yah, namanya juga rizki. Murah kalo ga ada duit, dan ga ada izin dan kemudahan dari Allah, ya mahal juga, he he. Tapi giliran mahal, tapi duitnya ada dari Allah, izin dan kemudahan juga ada dari Allah, ya hitungannya murah juga. Nah, tanah-tanah di sekitaran pesantren juga masih ada yang bisa dibeli. InsyaAllah dengan rame-rame bisa kebeli lebih banyak dan luas lagi u/ kemaslahatan bareng-bareng.

Di dunia usaha, ini disebutnya REDISTRIBUSI ASSET.
Duit kecil rame-rame beli Aset Besar. Coba bayangkan, dengan uang 2jt, saudara ga akan bisa beli tanah deket bandara. Masa beli semeter? He he he. Tapi 10rb orang ngumpul? Masing2 2jt? InsyaAllah bisa dah beli 2ha. Apa yang bisa dilakukan dengan 2ha? Buanyak banget. Apalagi ini 4,7ha.

InsyaAllah bisa bangun komplek pergudangan, rest-area, perkantoran, perhotelan, apartemen/kondotel, hingga sarana rekreasi, sarana pendidikan (sekolah/pesantren) & ibadah (masjid). Sebab tanahnya lega. InsyaAllah masih banyak tanah yang lebar-lebar di deket bandara.

DARIPADA dibeli sama yang lain yang “ga jelas” siapa dan untuk apanya, kan mending kita selametin, dan kembangin dengan apa2 yang baik, tidak bertentangan, dan keuntungannya bisa dilkembalikan u/ kemaslahatan lagi urusan kemanusiaan dan keagamaan. InsyaAllah seru dah.

Ok, proyek pertama ini, adalah pembelian 4,7ha tanah di deket bandara. Sekali lagi, keuntungannya saya tegaskan, yakni keuntungan investasi tanah. Ia bisa disewakan, bisa dikembangkan u/ ini u/ itu. Selisih dari harga beli ke harga jual, juga bisa menjadi keuntungan kita semua. Niatin belajar juga dah. Belajar yang kecil dulu ini. Untuk nanti belajar patungan beli-beliin perusahaan raksasa, insyaAllah.

Nih ya, tv kesayangan saya skrng tau kan? Dan tv “sodaranya”, alias 2 tv, bakal dilego sama pemiliknya, atas izin Allah, sekitaran 10T. Nah, itu kan industri strategis. Industri tv. Udah lama kita rindu sama “punya tv”. Giliran ada yg dijual, kita ga bisa apa2. Dulu tereak2, he he, ayo dong bikin tv, ayo dong bikin tv. Nah, ada tv yg dijual, eh eh eh, meneng wae, he he he. Meneng wae tuh bahasa kawan saya, artinya: diem aja. Sbb semua merasa itu 10T, darimana? Padahal kan bisa. Patungan! Itu jawabannya.

Tapi ya itulah. Yg gede2 banget, kita akan menuju itu. Siapa tahu bisa naro saham PatunganUsaha atau Patungan Aset di Garuda, he he he, di Pertamina, di bank Muamalat, di bank2 besar lainnya, di Medco, di mana2 dah. He he he, ngimpi aja dulu. Dream. Habis itu pray, dan action dah. Dan ini kan bukan sekedar dream biasa. Dah ada actionnya.

Untuk PROYEK PERTAMA dari PATUNGAN ASET saya bandrol  2  juta rupiah per meter. Biar mudah sistemnya dibuat dalam bentuk Rp 2.000.000,- per Meter. Jadi kalau beli 2 Meter berarti Rp 4.000.000,-. Beli 6 Meter berarti Rp 12.000.000,-.

Saya lumayan nabrak pakem bisnis normal nih, he he he. Saya cuma punya spirit di awal ini, dan trust. Kepercayaan. Untuk tidak maen2 ngawal amanah ini hingga menguntungkan. Dalam artian, profesional banget di urusan investasi, belom sempurna. Tapi saya mau belajar. Sebagaimana kawan2 saya minta juga semuanya terus belajar. Jangan merasa pinter, jago, sehingga bukan saja berhenti belajar, tapi juga malahan ngecilin langkah orang, ngecilin potensi orang, ngecilin nawaitu orang. InsyaAllah kita belajar bareng dan ngewujudin bareng.

Di atas tanah 4,7ha ini, insyaAllah kita akan segera garap u/ apa-apa yg disebut di atas: untuk perkantoran, pergudangan, pendidikan, rest area, water-boom, rekreasi, pusat kuliner, masjid, dll.

Alhamdulillaah saya diperbolehkan menggarap langsung tanah ini. Untuk awalan, saya mau buka lahan dulu. LandClearing. Bikin infrastrukturnya. He he, yang ini hasil belajar nih. Ngerti dikit tentang landclearing, infrastruktur, dan pre-marketing. Cool dah. Keren. Nanti hasil jualnya berapa, saya minta kesediaan sodara2 berbagi keuntungan: 50% untuk saudara selaku investor, 25% untuk saya dkk, 25% untuk pesantren. Deal ya? Adil koq, he he, kata saya.

Ok ya? Cukup dulu ya penjelasan ini.

Ini summarynya:
Proyek: Pembelian Aset tanah 4,7ha di deket bandara Soekarno Hatta, Jakarta.
Investasi :
@ Rp. 2.000.000,- per Meter

Kalo bisa jangan nyusahin saya, he he. Cash langsung 1 meter . Dan ambil aja jangan 1 investasi PA. Tp lebih dari 1 PA dah. Silahkan. Habis itu, insyaAllah saya dkk akan ngegarap tanahnya, u/ landclearing dan infrastruktur, serta pre-marketing..
InsyaAllah saya sejak ngasih DP 2M ke pemilik, udah langsung gerak ambil gambar ukur, dan panggil ahli2 landscape, arsitek, sipil, desain, orang2 BisDev (BusinessDevelopment), orang2 promo, trmasuk lintas profesi: kwn2 di bidang rekreasi, rest-area, pergudangan, pendidikan, dll. Kerja rame2 juga. Bismillaah. Ditunggu dah kehadirannya di PatunganAset (PA).

Aku gak bisa berkomentar banyak tentang bisnisnya, karena dari segi hukum, dia gak melanggar hukum kriminal. Dia meminta uang, dan ada yang sukarela memberi, di mata hukum gak ada yang salah. Aku cuma gak suka gayanya yang "membeli Indonesia". Kalau kamu bilang "mari kita buka usaha sebanyak-banyaknya dan mengumpulkan uang dengan halal" atau sejenisnya, masih masuk akal buat aku. Tapi membeli Indonesia? Ayo lha, in the end kita tahu siapa yang diuntungkan dari proses patungan itu kan :)
Twitter ID : stefano1003
Facebook : http://www.facebook.com/stefano.ariestasia
Google+ : stefano.ariestasia
Blog : http://catatanstefano.wordpress.com

Offline Èxsharaèn

  • Pölisia mar Ranch-i-ru
  • Administrator
  • Lv 9 Petualang senior
  • ************
  • Tulisan: 5.650
  • Karma: 8
  • Jenis kelamin: Pria
  • Veni, veni, venias; ne me mori facias...
  • Sistem Operasi:
  • Linux Linux
  • Peramban:
  • Chrome 30.0.1599.92 Chrome 30.0.1599.92
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • RPG Fantasy Web Indonesia
Re:Indonesia Milik Siapa?
« Jawab #1 pada: 10 November 2013, 01:58:33 »
Nih BM aslinya:

Kutip
INDONESIA MILIK SIAPA?

PERBANKAN
50,6% Aset Perbankan Nasional dimiliki asing. (Antara lain: ANZ Banking Group Limited (99%), Bank UOB Indonesia (98,84%), HSBC Asia Pasific Holdings (UK) Limited (98,96%), CIMB Niaga (97,93%), OCBC Overseas Investment (85,06%)

PERTAMBANGAN
Investor Asing kuasai 70% MIGAS, 75% Batubara, Bauksit, Nikel dan Timah, 85% Tembaga dan Emas. (Beberapa perusahaan asing yg kuasai sektor tambang dan Migas: Chevron, Conoco, Freeport, dan Newmont dari USA Total dari Perancis, Petrochina dari China)

TELEKOMUNIKASI
Telkomsel 35% SingTel Singapura, XL Axiata 66,5% Axiata Berhad Malaysia, Indosat 65% Ooredo Asia Qatar, Hutchison Tri 60% Hutchison Whampoa Hongkong China.

PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
40% dari 8,9 juta hektar dikuasai investor asing antara lain Guthrie Golden Hope, KL Kepong dari Malaysia, Wilmar Internasional dari Singapura, Cargill dari Amerika Serikat, SIPEF, Belgia.

SEKTOR yg akan diberikan Pemerintah untuk asing: Pelabuhan (49%), Operator Bandara (100%), Jasa kebandaraan (49%), Terminal Darat utk barang (49%), Periklanan (negara ASEAN bisa capai 51%)

LALU DIMANA RAKYAT INDONESIA?

Di sektor Perbankan Rakyat Indonesia hanya jadi Deep Collector alias tukang tagih hutang.

Di sektor Pertambangan Rakyat Indonesia hanya jadi kuli penggali tanah, mengangkat tanah dan sisanya jadi penghirup debu dari alam yang kering kerontang.

Di sektor Komunikasi Rakyat Indonesia jadi penjual pulsa di terminal, pasar dan warung2 sekaligus menggunakan pulsa itu sementara semua keuntungan dibawa ke negara asing!

Di sektor Perkebunan Rakyat Indonesia hanya jadi kuli cangkul, kuli petik dan semua keuntungan dibawa perusahaan asing.

5 tahun lagi Rakyat Indonesia hanya jadi Kuli pelabuhan, Pembersih Bandara, jaga Parkir Terminal dll

5 tahun lagi akan sanggupkah kita nyanyikan Indonesia Raya dgn wajah bangga dan dada yg tegap atau kita tertunduk tanpa harga diri?

Setidaknya marilah qt memulai dg mncintai produk dalam negri demi kemajuan bangsa qt sndiri
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
WAYN http://Exsharaen.wayn.com
About.me http://about.me/hoshiro.exsharaen

Offline Stash

  • The Sentinel of Volcano
  • Kru RPGFWID
  • Lv 7 Ahli
  • ******
  • Tulisan: 3.205
  • Karma: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Journey Never Ending
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • Catatan Stefano
Re:Indonesia Milik Siapa?
« Jawab #2 pada: 10 November 2013, 07:43:08 »
Kasihan sekali ya, si penulis saking pesimisnya dengan indonesia, kita ditakdirkan bakal cuma jadi kuli pelabuhan. Jadi mungkin ntar guru, dosen, dan para pengajar lainnya bakal diganti tenaga asing ya. Para SPG mungkin ntar ambil cewek dari luar. Para koki lokal mungkin bakal dipecat semua ya. Para pemilik usaha lokal mungkin harus menjual semua usahanya ke asing tanpa ada alasan....

Kelihatan kan logika si penulis yang gak bener? :D
« Edit Terakhir: 10 November 2013, 09:05:40 oleh Stash »
Twitter ID : stefano1003
Facebook : http://www.facebook.com/stefano.ariestasia
Google+ : stefano.ariestasia
Blog : http://catatanstefano.wordpress.com

Offline Èxsharaèn

  • Pölisia mar Ranch-i-ru
  • Administrator
  • Lv 9 Petualang senior
  • ************
  • Tulisan: 5.650
  • Karma: 8
  • Jenis kelamin: Pria
  • Veni, veni, venias; ne me mori facias...
  • Sistem Operasi:
  • Windows 8.1 Windows 8.1
  • Peramban:
  • Chrome 30.0.1599.101 Chrome 30.0.1599.101
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • RPG Fantasy Web Indonesia
Re:Indonesia Milik Siapa?
« Jawab #3 pada: 10 November 2013, 08:06:32 »
Yang jelas, si penulis sendiri kentara nggak cinta negeri sendiri, banyak kesalahan grammar di situ :D

Aku sih nggak keberatan sektor asing masuk ke Indonesia. Toh berkat mereka sekarang kita bisa menikmati banyak "kenikmatan duniawi" (kalau aku boleh pakai istilah itu). Siapa sih yang ga suka McD, KFC, Pizza Hut, Hoka-Hoka Bento? Siapa yang hari gini ga eksis via Facebook, Instagram, twitter, Path, lewat iPhone/iPad atau Samsung Galaxy-nya? Siapa sih yang ga pakai Windows, Mac, atau Ubuntu untuk bikin tugas kuliah, atau main game? Siapa sih yang gak pernah baca novel Stephen King, Harry Potter, Lord of the Rings? Siapa sih yang ga pernah nonton Twilight (atau malah menghujat habis-habisan) atau mengharu biru nonton Titanic sampai tiga kali? Siapa sih yang ga doyan mantengin foto-fotonya SNSD, Infinite, Big Bang? Kalau mau diteruskan, daftarnya bisa nggak habis-habis. Bisa bayangkan Indonesia tanpa itu semua? Jadi Korea Utara dong :D

Justru BM seperti itu menunjukkan betapa kita sangat tidak siapnya menghadapi sektor asing. Toh terbukti, beberapa hal menjadi lebih baik setelah sektor asing masuk (telekomunikasi misalnya, Internet Telkomsel setahuku paling stabil dibanding semua, dan ternyata SingTel di sini juga demikian). Memang kelihatannya ironis ketika bangsa kita jadi terlihat konsumtif gara-gara itu, tapi kalau memang kita harus bekerja untuk asing, kan pasti ada yang bisa kita pelajari dari sana. Kalau sudah siap, baru kita pelan-pelan meninggalkan ketergantungan terhadap sektor asing. Pemikiran seperti itu sih sah-sah saja kalau etos kerjamu seperti orang Jepang. Lha kita? Buruh malah demo minta kenaikan gaji yang nggak wajar. Gitu mau melepaskan diri dari ketergantungan sektor asing? Omong kosong :D

Jadi kadang heran aja sih kalau orang-orang demo yang berhubungan dengan kebijakan "Barat" (dan mereka lupa kalau bumi ini bundar; kita ada di sisi barat yang mereka panggil "Barat" :D) sampai merusak atau menjarah KFC, McD, 7/11, dan sebagainya. Bilang aja mau makan gratis...

Andai pengirim aslinya terlacak, aku pingin menantang dia tentang yang satu ini:

Kutip
5 tahun lagi akan sanggupkah kita nyanyikan Indonesia Raya dgn wajah bangga dan dada yg tegap atau kita tertunduk tanpa harga diri?

Kalau kamu memang cinta negerimu, sampai mati pun kamu harus bangga menyanyikan Indonesia Raya! Mumpung ini persis Hari Pahlawan, cinta pada negeri itu harusnya salah satu bentuk cinta tak bersyarat. Harga mati kalau pahlawan dulu bilang. Ini bisa diangkat jadi topik sendiri kalau mau, tapi si penulis BM itu malah menunjukkan kalau dia punya pikiran, "ah bangsa apa ini, malu aku jadi orang Indonesia. Lima tahun lagi pasti sama, atau malah lebih buruk." Sadarkah dia kalau 2015 kita bakal masuk ekonomi ASEAN? Kalau kamu nggak mau malu menunjukkan jati diri sebagai orang Indonesia, ya lakukan sesuatu lah yang berguna buat bangsamu, jangan malah menyebarkan BM seperti itu. Masuknya sektor asing sudah nggak bisa dihindari lagi; kamu harus siap!
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
WAYN http://Exsharaen.wayn.com
About.me http://about.me/hoshiro.exsharaen

Offline Stash

  • The Sentinel of Volcano
  • Kru RPGFWID
  • Lv 7 Ahli
  • ******
  • Tulisan: 3.205
  • Karma: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Journey Never Ending
  • Sistem Operasi:
  • Windows 7/Server 2008 R2 Windows 7/Server 2008 R2
  • Peramban:
  • Chrome 30.0.1599.101 Chrome 30.0.1599.101
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • Catatan Stefano
Re:Indonesia Milik Siapa?
« Jawab #4 pada: 10 November 2013, 09:12:47 »
Bentar lagi Indonesia akan masuk zona perdagangan bebas, yang terbukti dengan mulai dipermudahnya ijin kerja untuk tenaga kerja asing (aku baca di berita beberapa hari lalu). Kamu gak mau dijajah tenaga kerja asing? Upgrade kemampuanmu. Jangan hanya tahu demo saja. Jangan menuntut hak dulu, baru mau menjalankan kewajiban. Jangan berpikir bahwa yang terjadi kepadamu adalah kesalahan orang lain. Intropeksi diri dulu.

Aku setuju dengan exshan. Kalau kamu sendiri cinta Indonesia, kamu gak akan malu menyanyikan Indonesia Raya dengan bangga.
Twitter ID : stefano1003
Facebook : http://www.facebook.com/stefano.ariestasia
Google+ : stefano.ariestasia
Blog : http://catatanstefano.wordpress.com

Offline 9abdimen

  • Lv 1 Pendatang
  • *
  • Tulisan: 3
  • Karma: 0
  • Sistem Operasi:
  • Windows 7/Server 2008 R2 Windows 7/Server 2008 R2
  • Peramban:
  • Chrome 40.0.2214.115 Chrome 40.0.2214.115
  • Bergabung sejak: 23/02/2015
    YearsYearsYears
    • Investasi Properti Apartemen
Re:Indonesia Milik Siapa?
« Jawab #5 pada: 23 Pebruari 2015, 03:31:06 »
Inti BM itu, si penulis merasa kalau Indonesia bukan lagi milik orang Indonesia. Benar kah begitu? Dalam penjelasannya dia menjelaskan bagaimana saham perusahaan-perusahaan besar dimiliki oleh asing. Aku malas untuk mengecek kebenaran angka-angkanya, jadi aku akan memberikan fakta kalau orang asing tidak bisa memiliki hak milik atas properti di Indonesia (baca ini). Jadi apakah Indonesia bukan milik orang Indonesia? Secara hak milik tanah, Indonesia masih milik orang Indonesia, termasuk tanah yang dipakai oleh perusahaan asing sekali pun.


Yah peraturan pemerintah yang tidak membolehkan hak milik properti dimiliki asing, kukira merupakan hal bagus. Agar orang Indonesia menikmati keuntungan dari bisnis investasi properti ini... Cuma katanya ingin ada peraturan baru yah mengenai kepemilikan properti ini?





Sewa apartemen merupakan salah satu bentuk investasi properti saat ini yang memberikan keuntungan optimal.

Tags:
 

Dengan Jawab-Cepat Anda dapat menggunakan kode buletin board dan smiley seperti tulisan normal, tapi jauh lebih menyenangkan.

Peringatan: topik ini belum dituliskan setidaknya 120 hari.
Kecuali Anda yakin ingin menjawabnya, harap pertimbangkan untuk memulai sebuah topik baru.

Nama: Email:
Anti-spam: complete the task