Penulis Topik: Masyarakat Rumor, Budaya Rumor  (Dibaca 704 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Stash

  • The Sentinel of Volcano
  • Kru RPGFWID
  • Lv 7 Ahli
  • ******
  • Tulisan: 3.205
  • Karma: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Journey Never Ending
  • Sistem Operasi:
  • Windows 7/Server 2008 R2 Windows 7/Server 2008 R2
  • Peramban:
  • Firefox 30.0 Firefox 30.0
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • Catatan Stefano
Masyarakat Rumor, Budaya Rumor
« pada: 18 Juli 2014, 12:39:34 »
Kapan hari aku sempat membaca sebuah tulisan menarik di Kompasiana dengan judul Masyarakat Rumor, Budaya Rumor: Mempertanyakan Integritas Wartawan (Bagian 1). Bagi yang malas membacanya, beberapa kesimpulan dari tulisan itu

  • Sebuah tulisan tidak jelas di Twitter, Facebook, blog, atau pun pesan berantai melalui aplikasi chat, secara umum dianggap layak oleh masyarakat kita sebagai sumber yang kredibel. Tidak perlu melakukan riset yang lebih mendalam, atau mencari sumber berita yang bisa dipertanggung jawabkan.
  • Sayangnya kebanyakan masyarakat kita justru tidak peduli dengan cek dan recek. Asalkan berita tersebut sesuai dengan keinginannya, maka berita itu dianggap benar. Namun jika tidak sesuai dengan keinginan, maka berita tersebut dianggap palsu. Akhirnya masyarakat hanya membaca apa yang mereka mau, benar atau bohong, mereka sudah tidak peduli lagi.
  • Orang yang tekun dalam menjalankan ajaran agamanya dan berpendidikan tinggi tidak otomatis menjadikan dia pribadi yang dapat berpikir jernih, tidak mudah terhasut, dan hati-hati dalam menyebarkan berita.
  • Ada sebuah artikel yang merupakan artikel tuduhan tidak beralasan, mampu menggaet 3.700 pembaca, sementara artikel yang mengklarifikasi bahwa berita tersebut bohong hanya mampu menggaet 565 pembaca saja. Masyarakat yang tingkat literasi media-nya sudah tinggi, tentu tidak akan menggubris tulisan yang tak diketahui penulisnya (anonim), namun masyarakat kita justru tidak peduli apakah yang menulis riil atau tidak, yang penting isinya sesuai dengan keinginan mereka.
Kalau membahas kasus ini, aku selalu mengangkat contoh kasus "legenda", yaitu sebuah pesan berantai di aplikasi Blackberry Messenger yang berbunyi kurang lebih "Kalau anda tidak membagikan pesan ini kepada teman-teman anda, maka PIN BB anda akan dinonaktifkan". Dengan sedikit riset di Google, maka kita akan tahu bahwa itu bukan kebijakan resmi dari produsen BB. Bahkan mungkin akan banyak laman yang memberitahukan kalau itu cuma hoax (tipuan). Toh sebagian besar orang memilih cara termudah. yaitu langsung menyebarkan pesan itu ke temannya.

"Apakah pesan itu benar? Mungkin gak, tapi ya apa salahnya ngirim kan? Daripada aku harus repot-repot buka Google, mencari beritanya." Mungkin itu adalah pikiran sebagian besar orang yang melakukannya.

Dalam kasus di atas, karena kedua tindakan bisa dibilang minim resiko yang merugikan orang lain, aku mungkin setuju dengan pemikiran begitu. Tapi ketika yang dipertaruhkan adalah nama baik seseorang/institusi/negara, atau bahkan kerugian harta atau bahkan nyawa, maka kita seharusnya lebih berhati-hati.
Twitter ID : stefano1003
Facebook : http://www.facebook.com/stefano.ariestasia
Google+ : stefano.ariestasia
Blog : http://catatanstefano.wordpress.com

Tags: masyarakat budaya rumor 
 

Dengan Jawab-Cepat Anda dapat menggunakan kode buletin board dan smiley seperti tulisan normal, tapi jauh lebih menyenangkan.

Peringatan: topik ini belum dituliskan setidaknya 120 hari.
Kecuali Anda yakin ingin menjawabnya, harap pertimbangkan untuk memulai sebuah topik baru.

Nama: Email:
Anti-spam: complete the task
anything