Penulis Topik: thenewamster  (Dibaca 1718 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline saint_eve

  • Lv 2 Pemula
  • **
  • Tulisan: 150
  • Karma: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • wekz,,
  • Bergabung sejak: 06/12/2008
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
thenewamster
« pada: 27 Desember 2008, 04:34:35 »
Chapter  I  (Open Gate)

Two Guardian

   “Hoamm,,!” Saint menguap, “tidurku pulas sekali malam tadi,,ehm.. Aduh,,! Tapi kok malah badanku ngrasa capek ya,,? Mana perut lapar lagi.. Ehm,, kira-kira ibu masak apa ya hari ini,,!” Saint pun berjalan keluar kamar walaupun matanya masih setengah terbuka.
   “Pagi Ibu,,! Sedang masak apa nie,,?” tanya Saint setelah sampai di dapur di mana sedari tadi tercium bau harum masakan yang sedang dimasak oleh ibunya.
   “Pagi Saint,,! Ibu sedang memasak soup kesukaanmu nie,, Kamu dah lapar ya,,? Tunggu sebentar ya,, nie mau matang kok.. Eh,, kayaknya garam persediaan kita habis nih,, kamu mau gak beli 5 kg garam di Potion Shop Saint,,?”
   “Tentu saja, Bu,,! Mana uangnya,,!”
   “Nih,,!” memberi uang 10,000 rex..

Recieved 10,000 Rex* (mata uang kerajaan Thenewamster)

   “Ini kelebihan, Bu,,! Bukankah satu kg hanya 1,000 rex..”
   “Tidak apa-apa,, ambil saja kembaliannya,,!”
   “Terimakasih banyak, Bu,,! Aku sayang banget ma Ibu, deh.. Muuuuaach,,! aku berangkat..”
   “Kau ini ada-ada saja Saint.. Sudah sana pergi,,!”
   Saint pun berjalan dengan melenggang-lenggangkan tangannya. Dia itu anak yang setiap harinya hanya di penuhi dengan senyum bahagia. Belum pernah ada yang melihat dia meneteskan air matanya. Kemurahan senyumnya dipadankan dengan keramahan hatinya. Hal tersebut membuat dia mendapat julukan Smiley Boy.
   “Pagi, Saint,,!” sapa tetangganya saat berpas-pasan di jalan.
   “Pagi,,!”
   Para penduduk desa sudah mulai bekerja. Walaupun jam masih menunjukkan pukul 06.30 SWT*(Sekala Waktu Thenewamster). Para petani sudah mulai mencangkul sawahnya. Para ibu-ibu menyapu halaman depan mereka. Pak polisi sudah berpatroli dengan sepedanya. Para pemilik Toko sudah membuka tokonya. Itulah suasana Margosari Village pada pagi hari.
   Selang beberapa menit Saint sudah masuk ke dalam Potion Shop. Meskipun namanya Ption Shop, toko ini tidak hanya menjual Potion*(cairan yang berfungsi meregeneresasi) saja. Toko ini juga menjual beberapa aksesoris yang memiliki nilai magh*(pengaruh terhadap status si pemakai) ataupun sekedar hiasan semata. Bahkan buku-buku tentang might*(penggunaan elemen alam) pun di jual di sini. Inilah perbedaan desa ini dengan desa lainnya. Di desa lain satu toko hanya menjual 1 macam benda, tidak lebih, bahkan tidak diperbolehkan oleh kerajaan. Lha kok desa ini malah dibiarkan,,? Hal ini disebabkan penduduk desa yang hanya sedikit, mungkin tidak lebih dari 85 orang. Jadi banyak sekali orang yang pekerjaannya merangkap.
   “Oh, kau Saint,,! Ngomong-ngomong di mana Ibumu,,?” penjaga toko langsung menyapa saat Saint baru akan menutup pintu toko.
   “Ibu ku sedang memasak di rumah,, memang ada keperluan apa anda mencari Ibu ku,,?”
   “Eng,, Anu, Saint,,! Sebenarnya aku ingin memberikan garam,merica, dan gula sebagai ucapan terima kasih karena ibu mu telah membantu ku mengurusi khitanan anak ku kemarin..”
   “Wow,, kebetulan sekali donk,,! Ibu ku di rumah kekurangan garam,, dan dia menyuruhku untuk membeli beberapa,,!”
   “Hohoho,, beruntung sekali aku dapat membantu ibu mu secara kebetulan seperti ini.. Ini terimalah,,!”

Recieved 6kg garam, 3kg merica, 2kg gula

   “Terima kasih,,”
   “Sama-sama,, cepatlah bawa kerumah sebelum masakan ibu mu jadi hangus,,!”
   Saint langsung berbalik, berjalan menuju pintu toko. Dia sempat berhenti karena melihat gelang yang sangat bersinar. Ia ingin sekali membeli gelang tersebut, akan tetapi dia langsung mengurunkan niatnya setelah membaca label di gelang itu yang bertuliskan “20,000 Rex”. “Mungkin belum saatnya membeli gelang tersebut,,” pikirnya.
   Saint pun langsung berjalan dan membuka pintu toko itu. Akan tetapi sebelum pintu toko tersebut terbuka penuh terdengar suara ledakan yang sangat keras yang diikuti dengan gempa sesaat. Saint terkejut sampai terdiam beberapa detik.
   “Suara apa itu,,?” batin Saint, “aku harus segera mencari tahu sumber ledakan itu,,!”
   Saint langsung berlari keluar dari toko dengan cepat. Ia melihat kepulan asap yang ia tahu pasti dari mana asalnya. Ia berlari ke arah asap itu. Ia berharap bahwa dugaannya salah akan asap itu. Keringat dari tubuhnya yang sedari tadi mengalir seakan terhenti dan berganti air mata begitu ia sampai di depan rumahnya yang sudah hancur berantakan dengan menyisakan puing-puing yang masih terbakar.
   “Apa yang terjadi,,?” sambil menerawang kosong ke dalam rumah, “bagaimana dengan ibuku,,?”
   “Maafkan aku Saint,, Kejadiannya begitu cepat sehingga aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,,!” jawab Flury, tetangga Saint yang seumuran dengannya.
   “Aku harus masuk untuk menyelamatkan ibu,,!” Saint hendak berlari menerobos api yang masih menjalar.
   “Jangan Saint,, Tidak ada gunanya kau masuk kesana,, Ibumu pasti sudah meninggal,, Jangan membahayakan hidupmu,,!” Ayah Flury sekaligus kepala desa di Margosari Village langsung menyekap Saint dari belakang.
   Saint hanya bisa meronta-ronta sambil berteriak meyebutkan nama ibunya. Ia memandang rumahnya tanpa berkedip. Ia hanya  bisa terlarut dalam kesedihan yang mendalam. Tak lama kemudian ia pun pingsan entah karena kehabisan tenaga atau tekanan batin.
   
   3 tahun kemudian . . .


duh segini aja dulu deh,,
minggu depan qlu bisa wa update,,okokok
« Edit Terakhir: 27 Desember 2008, 04:37:32 oleh saint_eve »

Offline Famicone

  • Lv 1 Pendatang
  • *
  • Tulisan: 2
  • Karma: 0
  • Sistem Operasi:
  • Windows 7/Server 2008 R2 Windows 7/Server 2008 R2
  • Peramban:
  • Firefox 56.0 Firefox 56.0
  • Bergabung sejak: 25/12/2019
    Years
Re:thenewamster
« Jawab #1 pada: 25 Desember 2019, 03:07:09 »
The past, I have, but find the answer alone about this. This has been known.

Tags:
 

anything