The Flying Widow Bar > Contro-Verse

Asumsimu, kenyataanmu

(1/2) > >>

Èxsharaèn:
Aku pernah baca buku The Secret, walaupun nggak tuntas, ada satu hal yang membuatku mengubah cara pandang terhadap dunia saat itu. Kata buku itu, pikiran kita sendiri lah yang menentukan hal-hal yang akan datang ke diri kita. Kalau kita sering berpikir positif, maka hal-hal positif akan tertarik ke arah kita. Sebaliknya, kalau kita sering berpikir negatif, itulah yang akan kaudapatkan.

Ada seorang temanku, sesama pemain di DN SEA, katakanlah si A, yang punya sifat ini: terlalu cepat berasumsi alias mengambil kesimpulan. Contoh paling dasar lah, kalau BBM-an. Begitu aku nggak jawab dalam beberapa menit, dia pasti kirim pesan, "Sibuk ya?" Apakah aku harus sibuk untuk tidak menjawab pesanmu? Dari dulu aku punya kebiasaan untuk memasang status yang benar-benar menandakan tingkat kesibukanku: tersedia, sibuk, tidak bisa dijangkau, jangan diganggu, atau sedang charge BB. Tapi ya itu, kalau nggak kujawab sebentar saja, kalimat itu keluar.

Yang paling baru, dia memang sering kuomeli kalau melakukan kesalahan dalam permainan, misalnya salah pencet. Tapi, akhirnya dia berasumsi, "di matamu aku mana pernah bener sih?" Terakhir, sempat terjadi pergeseran dalam rutinitas sehari-hari. Biasanya, tiap hari kami akan melakukan tugas harian yang jumlahnya tidak selalu sama, kadang dua atau tiga. Tugas harian ini harus diambil di NPC. Nah, berhubung aku sering disconnect kalau pindah area, akhirnya kami kebiasaan pakai teknik summon: salah satu buat kelompok terlebih dahulu dan keluar, baru memanggil satu per satu yang lain. Ketika dipanggil seperti itu, seseorang bisa menjawab ya atau tidak. Setelah aku dan seorang lagi dipanggil, akhirnya dia dipanggil. Ups, sudah muncul di luar kota, ternyata dia belum ambil tugas itu. Ya aku berkomentar, "gitu kok dijawab ya pas dipanggil..." Kan bisa saja nolak dulu, lalu bilang di chat guild, "eh bentar, aku belum siap, belum ambil tugas." Seorang lagi tertawa, tapi lalu si A ini nulis, "di matamu aku mana pernah bener sih?" Lho, siapa yang nuduh itu salah? Mungkin sekilas memang salah, tapi ya nggak masuk akal lah menyatakan diri siap tapi ternyata ada yang ketinggalan...

Well, kalau memang itu yang kau mau, aku bisa kok selalu memandangmu salah dalam semua hal :D

Lain cerita, aku memang mencoba berpikir positif terhadap semua hal. Misalnya, gara-gara nilai jelek, aku terpaksa harus menempuh semester ketiga. Tapi mungkin memang harus begitu, karena ternyata ada temanku yang nyusul, dan dia melakukan kesalahan yang sama, walaupun nggak sefatal diriku. Atau mungkin memang aku harus melakukan sesuatu terlebih dulu sebelum selesai studi, dan ternyata memang ada temanku yang lain yang nyusul ke sini (walaupun beda sekolah). Ada yang mengatakan itu overconfident, ada yang bilang nggak realistis, karena kehidupan ini nggak selalu positif. Memang benar, tapi apa lantas kita harus selalu berpikir negatif? Dunia ini auranya sudah terlalu negatif, ngapain kita membuang energi untuk menciptakan hal-hal yang semakin negatif? Di sisi lain, kadang-kadang aku lebih suka berpikir worst case scenario ketimbang berpikir optimis. Mungkin beberapa juga punya pikiran seperti ini, dengan alasan supaya nggak kecewa kalau ternyata keinginannya nggak terwujud.

Aku rada bingung juga sih menghadapi seseorang yang terlalu sering berasumsi tentang diriku. Yang paling sering, oleh orang sini aku diasumsikan pasti bisa berbahasa Cina, padahal nggak. Jujur aja, aku juga sering kok berasumsi tentang seseorang, misalnya Pinoy itu "unik" karena sejauh ini pertemuanku dengan mereka nggak ada yang berjalan mulus. Jadi, baikkah berasumsi tentang seseorang? Gimana kalau kalian diasumsikan sesuatu oleh seseorang, apa kalian akan mewujudkannya atau berusaha membuktikan bahwa asumsi itu salah besar?

Stash:
Dari pengalamanku, membaca sebuah pesan di hp atau komputer akan mempunyai efek berbeda dengan kalau aku mendengarkab secara langsung. Kenapa? Karena intonasinya. Dari intonasi, orang bisa menduga apa maksud dibalik kalimatnya. Ketika kamu cuma membaca saja, terlebih baca pesan dari orang yang gak pernah kamu temui langsung, maka kamu otomatis berasumsi apa intonasi yang dipakai lawan bicaramu.

Kalau seseorang berasumsi tentang kita, kita gak bisa berbuat apa-apa. Dan mencoba membuktikan kalau itu salah pun agak gak efektif, karena orang itu akan berpikir kalau kita cuma sedang berpura2. Dia harus mengalami langsung dan benar-benar merasakan kalo kita tulus, baru deh dia bisa meruntuhkan asumsinya itu. Dan agak susah melakukan hal itu kalo cuma lewat internet :D

Èxsharaèn:
Berarti pada harus pakai Skype semua dong sekarang biar ga ada salah paham :D

Stash:
iya. usulin sana ke GMnya DN :D

faart:
Giliranku revive topik lama  ^^; berhubung tadi ga sengaja baca-baca di sini, jadi inget curcolku sama kk Exshan  :P

Aku sebetulnya juga sering berasumsi (yang buruk) tentang seseorang, tapi biasanya itu cuma kalau dia sudah terlalu sering melakukan hal itu. Ada 2 kasus yang aku ingat betul:

Yang pertama, ke seorang temanku seangkatan, sebut saja si A (niru yah, daripada kusebut Mawar  ;D ).
Entah kk Exsharaen inget ga  :P yang jelas waktu itu aku heboh sendiri gara-gara mau ambil Game Development dan ga mau sekelompok sama dia.
Alasanku? Dari pengalaman kelompok di semester-semester sebelumnya, kalau aku cuma berdua dengannya, pembagiannya selalu seperti ini: aku yang ngoding, dia yang ngurus graphic asset dan animasi. Dia sih ngakunya bisa animasi karena sering pegang Flash. Pikirku sih, oke lah, berhubung kemampuan gambarku juga pas-pasan dan waktu itu kebetulan kami bikin kelompok untuk mata kuliah yang berhubungan dengan animasi YANG PERTAMA yang kuambil, jadi kemampuanku nol sama sekali waktu masuk kelas itu  ^^;
Nah, apa yang terjadi? 90% berakhir aku yang ngerjain. Seingatku kalau ga salah dia cuma nyomot gambar yang akhirnya harus aku yang edit lagi untuk dipakai, dan semua coding diserahkan padaku. Udah gitu, masih harus ngajari dia supaya waktu presentasi ga kelihatan kalau aku yang kerja! Ini terulang lagi waktu kelompokku ada empat orang (aku, si A, sisanya sebut B dan C yah  :P ), waktu itu kami sampai harus nginap di rumah si A untuk ngerjain proyek akhir IMK. Apa yang si A lakukan? Tidur. Aku, si B dan si C yang membereskan semua error-error yang masih ada setelah kami gabung semua hasil kerja, termasuk copy-paste frame (kalau ga salah ingat itu bikin PCnya lag betul karena ada 2000+ frame animasi) sampai pagi. Yang paling bikin aku kesal (dan sebetulnya kalau aku ingat-ingat lagi masih bikin mangkel) adalah... si A nyaris tidak menyentuh program tugas itu, tapi nilainya malah A dan aku B  >:(
Nah, salahkah kalau aku berasumsi dia akan mengulangi ini lagi kalau sekelompok denganku? Entah akhirnya GD-nya dapat apa itu, yang jelas aku waktu itu menolak dengan berbagai macam alasan waktu dia minta sekelompok karena ternyata setelah pembagian, dia termasuk kumpulan orang yang tak dapat kelompok...

Ya memang sih sebetulnya orang selalu akan bisa berubah, tapi siapa yang mau jamin kalau aku nggak akan dimanfaatkan lagi?

Kasus kedua, ke teman roleplay-ku yang Pinoy yang disebut-sebut di topik Speak up!... or silence? (http://forum.rpgfantasy.web.id/index.php?topic=752.0) Sebut saja si J.
Ini agak lain, tapi intinya adalah dia duluan yang selalu "menuduh"ku (sebetulnya lebih pas guilt-tripping), dan setelah banyak sekali pertengkaran hebat dan kata-kata tajam dariku, dia ngaku kalau dia memang melakukan itu dengan alasan-alasan tertentu.

[Btw, kalau ga nyaman dengan topik yang berhubungan dengan sexuality, mending lewati aja bagian ini yah...]

(click to show/hide)Aku memang lebih memilih jadi cowok di roleplay (alasan utamanya bahwa aku menghindari kemungkinan 'cinta semu' dengan karakter cowok di sana kalau aku jadi cewek, dan mengurangi kemungkinan pacarku saat itu cemburu), dan rupanya aku termasuk orang yang cukup langka di komunitas roleplay itu karena kebanyakan, kalau tidak hampir semua cewek (sepertinya 90% pengguna RPR adalah cewek) yang memilih karakter cowok di sana menjadikan karakternya gay, sedangkan aku memang tidak nyaman dengan itu, jadi karakterku selalu 'lurus'. Memang jadinya susah untuk mencari orang yang benar-benar cocok diajak roleplay, dan kebetulan saja karakter kami cocok. Ini berlanjut sampai beberapa roleplay di mana karakter kami hampir selalu jadi couple. Di luar itu, kami chat via Line, dan memang akhirnya banyak curhat berdua, malahan seiring waktu aku dianggap 'virtual boyfriend'nya walaupun dia tahu aku cewek. Sebetulnya sih mula-mula nggak ada masalah, sampai pada titik di mana dia mulai cemburu karena berasumsi jelek tentangku... dan menurutku lama-lama sudah kelewatan.

Contohnya, kalau aku chat OOC (Out Of Character) dengan orang-orang di sana waktu dia nggak online. Waktu akhirnya dia online dan membaca semuanya, dan kuchat dia, dia akan bilang "Lho kamu ngapain cari aku? Chat sama si E aja, kan ada dia. Kamu kan udah nggak butuh aku." Masih banyak contohnya, nggak bakal cukup ini kalau kusebutin satu-satu, tapi intinya adalah dia hampir selalu menempatkanku pada posisi "guilty" dan dia merasa berhak untuk throw a tantrum kalau aku nggak menempatkan dia di posisi utama. Ada sekitar satu tahun lebih sampai aku akhirnya cerita ke kk Exshan dan memutuskan untuk jaga jarak. Tapi akibatnya dari tuduhan-tuduhan yang sebenarnya asumsi itu, bahkan setelah kami jaga jarak satu sama lain, aku masih sangat sering terprovokasi ucapannya. Sampai sekarang, hampir selalu kalau si J bilang 'okay, just go play DN with your friends, I don't want to disturb you' mungkin saja dia memang sadar dan bermaksud begitu, tapi aku juga 99% akan mengartikan bahwa dia sebetulnya cemburu lagi, walaupun sekarang kubiarkan saja.

Memang dia sendiri juga cerita kalau dia anak dari istri kedua (padahal papanya petinggi agama Kristen di sana, sampai sekarang nggak habis pikir aku) dan keluarga besarnya bisa dibilang tidak menyukainya. Malah ada beberapa hal yang saking parahnya aku jadi curiga itu hanya dibuat-buat supaya aku jadi lebih memperhatikan dia. Nah asumsi lagi kan  :P

Di sisi lain, beberapa bulan lalu juga ada masalah sama korselku sendiri, sebut aja M. Memang di sel yang lama korsel lamaku yang selalu inisiatif nyariin transport untuk ke PD/sel dan aku baru dikabari sore sebelum PD itu. Sel tahun ini sih, korsel yang baru ini maunya mendidik kami untuk mandiri (alias bisa cari nunutan sendiri, krn dia juga ga ada transport sendiri).

Aku bukannya menolak, karena aku tahu memang maksudnya mendewasakan, tapi justru dia yang punya asumsi jelek duluan saat aku tanya. Saat itu jam 1 siang, dan waktu aku tanya masalah ini ke dia (karena jelas dia kenal lebih banyak orang dibanding aku di sana), dia bilang mau bantu untuk cari. Sampai jam 3 sore, aku sudah tanya ke tiga orang selain dia dan semuanya bilang tidak bisa karena ada keperluan masing-masing, dan akhirnya karena dia juga belum mengabariku, jam 5 aku tanya lagi "ce, gimana? ada kah yg bisa dinunuti?" Jawabannya? "lho km kok g tanya drtd? sori, aku wes berangkat. lain kali tolong inisiatif sendiri. jgn selalu ngandalin orang, apalagi waktunya mepet. aku juga ga cuma ngurusi km."
Well hello, aku cuma tanya, dan waktu itu pikiranku cuma bahwa kalau dia juga bilang tidak ada yang bisa, aku akan berangkat sendiri. Jujur aku mangkel luar biasa waktu dijawab seperti itu...

Memang repot yah kalau orang selalu berasumsi, tapi lha aku sendiri juga ga bisa lepas dari asumsi  ^^;

Navigasi

[0] Indeks Pesan

[#] Halaman berikutnya

Jawab

Ke versi lengkap