Berita:

Update RPG OJ v0.2 dan v0.2.1 ke v0.2.2!
Lihat keterangan lebih lanjut di Enter Our Journey > Releases and Updates..

Main Menu

Save Point: save your progress here

Dimulai oleh Èxsharaèn, 28 Oktober 2006, 12:24:47

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Èxsharaèn

Save point...

Ultah papaku dirayakan dengan sederhana: hanya pakai nasi uduk, serundeng, dan mi tanpa daging. Tetap enak sih :) tahun ini tidak ada foto-foto, sudah malas difoto katanya ^^; Sabtunya... tidak ada yang spesial sih, sempat jalan ke Chicco dengan mamaku untuk beli alcohol swab untuk papaku. Ujung-ujungnya aku malah beli mangkuk dan sendok/garpu Doraemon buat kubawa ke Malaysia :D 

Besok akan berangkat ke Bojonegoro dan menginap selama tiga hari di rumah tanteku. Aku sudah lama sekali tidak ke sana, bahkan tidak tahu sama sekali tentang warung tanteku. Semoga tiga hari besok bakal berkesan dan jadi penyemangat supaya aku siap berangkat tanpa ada beban apapun :) 
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
About.me https://about.me/hoshiro.exsharaen

Èxsharaèn

Save point... bakal rada panjang ^^;

Pengalaman naik kereta api lokal sebenarnya bukan hal baru sih. Dulu pernah ke Bojonegoro dengan naik kereta yang sama, dan harganya masih tetap juga: hanya enam ribu rupiah. Naiknya dari stasiun Gubeng, turun langsung di Bojonegoro. Hanya saja, kali ini pesan tiketnya lewat aplikasi KAI Access. Sempet agak ketipu di sana, karena susunan tempat duduknya berbentuk kotak-kotak, jadi kukira bakal hadap ke arah yang sama semua. Ternyata tetap hadap-hadapan ^^; yang agak merepotkan lagi, peron di stasiun Gubeng ternyata tidak sama tinggi dengan pintu kereta api. Bagi orang muda mungkin tidak masalah, namun bagi papaku yang penglihatannya sudah menurun jauh dan jantungnya lemah, jadi masalah, apalagi pintu kereta tidak pas di undakan portabel. Jadinya, mamaku terpaksa dorong dari bawah. Mungkin bisa jadi masukan buat stasiun Gubeng, terutama setelah mengamati di stasiun kota yang lebih kecil, dan di Bojonegoro juga, peronnya sama tinggi dengan pintu kereta. Yah, paling tidak perjalanannya mengesankan, aku terakhir naik kereta api tahun 2018 :) 

Di Bojonegoro, kerjaanku hanya makan dan tidur :D tentu saja ini jadi momen yang baik buat mamaku untuk bercengkerama dengan kakaknya, dan aku juga sudah lama sekali tidak ke sana (hampir lima tahun berlalu rasanya). Warung/kafe tanteku sudah tertata rapi, walaupun tidak terlalu ramai (sepertinya karena bulan puasa juga). Satu hal yang menggangguku: ada tempat bakar sampah yang asapnya sampai masuk ke warung. Jadinya, waktu duduk-duduk di warung, baunya agak mengganggu, bahkan bajuku akhirnya bau asap juga. Ya iya sih sampah yang dibakar hanya serpihan kayu (omku memang ada usaha pengrajin kayu jati), tapi menurutku itu mengganggu kenyamanan pengunjung. Yah, karena hanya dua hari, aku tidak tahu apakah itu rutin dilakukan, jadi bisa saja hanya kebetulan. Yang di Bojonegoro barangkali mau mampir :D namanya Warung & Kafe Jati Antik, di pojokan Jalan Lisman/Kopral Kasan, di desa Campurejo. Atau sepertinya sudah kurang pas disebut desa ya, karena jalan itu sekarang ramai banget, tidak seperti ingatanku semasa kecil yang suasananya tenang dan tidak banyak kendaraan lalu lalang. Mungkin karena sekarang di ujung jalan itu ada pasar modern. Selain itu, rumah tanteku juga lebih maju--entah apakah aku pernah menulis save point-nya di sini. Singkatnya, mantan istri koko sepupuku entah bagaimana caranya "menghancurkan" kondisi finansial keluarga tanteku sehingga rumah lama mereka harus dijual dan mereka membangun rumah baru di depannya, sehingga kini luas tanah tanteku hanya tersisa separuhnya. Untungnya masih cukup untuk membangun rumah baru dan tetap menjalankan usaha pengrajin, namun tetap saja sih... di sana aku juga sempat mengenang masa-masa itu, bahkan sempat ngintip sedikit rumah mewah di belakangnya yang dulu juga milik tanteku, dan dengan alasan yang sama rumah itu harus dijual. Ah aku heran saja, padahal dia seharusnya tidak punya sebuah motif untuk membenci keluarga tanteku, tapi kenapa sampai begitunya. Itu sudah terjadi, dan keluarga tanteku sudah berdamai dengan masa lalu itu, walaupun terakhir sempat sibuk dengan perceraian sipil--dia malah menuntut hak asuh ketiga anaknya, untungnya kalah di pengadilan. Koko sepupuku tidak mengurus anulasi gereja karena pasti rumit urusannya, tidak seperti aku yang memang cacat sejak awal.

Anyway... hal lain yang berubah, anjing kesayangan sepupuku sudah tidak ada  :'( aku tidak ingat kapan, namun beberapa tahun lalu saat sepupuku masih tinggal bareng aku di apartemen, dia menerima kabar kalau anjing kesayangannya itu mati karena makan racun tikus di rumah tetangga T_T memang usianya sudah tidak muda--mungkin dua belas tahun, dulu dia pernah tinggal di rumah saat sepupuku masih tinggal di sebelah rumahku, tapi ya siapa yang tidak sedih kalau tahu anjing kesayangannya mati gara-gara racun tikus tetangga... rasanya sepi banget waktu di sana, bahkan anjing peninggalan mantan istri koko sepupuku juga sudah tidak ada. Aku lupa sih apa anjing itu sudah mati duluan saat aku terakhir ke sana, sepertinya demikian. Cuaca di sana cukup sejuk, bahkan lebih dingin dibanding Surabaya. Makanya aku tidur siang mulu :P jadi merasa kurang lama di sana sebenarnya gara-gara itu. Berhubung terlanjur beli tiket kembali untuk hari Rabu, Kamisnya aku harus mengambil dokumen anulasi di Keuskupan, dan Jumatnya ada acara farewell party, ya mau bagaimana lagi, dinikmati sebisanya. Rabu siang, dengan bawaan tambahan satu dus bahan makanan, aku kembali ke Surabaya.

Hari Kamis, aku ke Keuskupan untuk mengambil dokumen anulasi. Ternyata itu adalah surat pernyataan bebas, yang menyatakan bahwa perkawinanku tidak sah sejak semula, sehingga kini aku dan mantanku bebas untuk menikah lagi, selama tidak ada halangan-halangan lain sesuai tata cara Katolik. Ya aku sih belum berniat nikah lagi sekarang, si dia yang kebelet :D bahkan ternyata--romo bilang--dia akan melangsungkan pernikahan lagi tahun ini. Lebih tepatnya, bulan Juli. Kok tahu? Karena mamanya si cowok mendadak WA ceceku kemarin, ngomel panjang lebar dan tidak sengaja spill tanggal pernikahan mereka. Ya, keluarga si cowok tidak merestui pernikahan itu sebenarnya, tapi kata mamaku di gereja Katolik seseorang bisa melangsungkan sakramen pernikahan tanpa restu orang tua. Bagiku aneh saja sih, padahal itu kan sebuah hal sakral yang juga dibutuhkan supaya pernikahan bisa berjalan dengan lancar. Yaaa siapalah aku sekarang, menggosipkan orang lain  :D
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
About.me https://about.me/hoshiro.exsharaen

Èxsharaèn

Save point...

Stres seharian ini menyusun barang di koper :'( ada beberapa barang bawaanku yang akhirnya terpaksa ditinggal karena tidak cukup di koper maupun bagasi, dan salah satunya adalah headset VR-ku. Tadinya aku berniat bawa itu untuk mendukung penelitianku selama S3, tapi kalau begini sih ya sepertinya pinjam punya lab kampus saja. Toh aku juga tidak yakin kamar kosku cukup untuk bisa menggunakan VR. Kalau koper... sudah 19 kg sih, tapi besok masih mau diisi sandal dan satu handuk lagi. Ga yakin cukup...
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
About.me https://about.me/hoshiro.exsharaen

Èxsharaèn

Save point...

Akhirnya sudah di Malaysia :) awal-awal berat banget rasanya, bahkan sejak hari-hari terakhir. Hari Senin (pekan lalu) aku sudah meninggalkan rumahku, dengan terpaksa meninggalkan beberapa barang yang tidak bisa kubawa, untuk menginap di rumah. Rabu pagi aku harus berangkat ke bandara, untungnya koko ipar mau antarkan. Selasa, aku diajak makan siang di luar. Walaupun sederhana, porsinya ternyata berlimpah. Aku sudah lama sekali tidak makan sebanyak itu :( malamnya hanya makan bakwan goreng bikinan sendiri. Dua malam itu aku tidak bisa tidur, selain harus menyesuaikan diri lagi karena sudah lama sekali aku tidak tidur di kamarku di rumah, keadaannya tentu saja sudah berbeda jauh sejak aku tidak lagi tinggal di sana. Dan ujung-ujungnya aku harus meninggalkan tempat itu... Rabu pagi, setelah siap-siap dan berangkat ke bandara...

Sampai sekarang aku belum bisa melupakan momen itu. Saat aku akhirnya berpisah dengan keluargaku di gerbang keberangkatan. Tiap kali mengingatnya, atau melihat lagi foto dan video yang direkam ceceku, rasa sedih itu langsung membanjiri dan tak tertahankan, bahkan saat aku menulis kenangan ini. Mungkin beberapa akan berkomentar, duh sudah tua kok masih sedih berpisah dengan orang tua, aku dulu bahkan sudah berpisah sejak bla bla bla. Well, aku tidak peduli. Bagiku, adalah sebuah karunia bahwa aku masih bisa bersama dengan orang tua yang selalu mendukungku penuh sampai di usia segini, hampir memasuki kepala empat, dan aku menikmati semua momen itu, sekalipun memang kadang-kadang ada jengkelnya. Aku tidak peduli kalau disebut anak mama; ya memang itu kenyataannya. Apakah itu membuatku jadi tidak mandiri? Kadang aku bertanya-tanya juga pada diriku sendiri, bahkan nanti kelak ketika mama meninggalkanku untuk selamanya, apakah aku bisa mengambil keputusan sendiri. Tentunya aku harus belajar, dan kepergian ke Malaysia ini, walaupun hanya dalam hitungan tahun, sepertinya akan melatihku untuk bisa hidup sendiri. Anyway... kesedihan itu kutahan saat aku melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum mama dan ceceku menghilang dari pandangan selagi aku menaiki eskalator menuju gerbang keberangkatan.

Dua jam empat puluh menit perjalanan di udara kemudian, sampailah di Malaysia. Pertama-tama, aku lapor EMGS dulu (ini semacam Kemendikbud namun layanannya untuk siswa internasional). Setelah itu, kebetulan sekali petugasnya mau ke imigrasi, jadi aku diantar ke sana, ke loket khusus pelajar internasional. Dengan menunjukkan dokumen-dokumen yang diperlukan, aku diizinkan masuk. Keluar ke hall kedatangan, aku sempat melihat ada booth SIM card. Langsung beli dua deh :D setelah itu, aku kontak-kontak dengan petugas dari MMU yang menjemputku. Akhirnya ketemu juga, dan ternyata hari itu ada satu siswa internasional lagi yang dijemput, tapi dia student exchange. Selama perjalanan, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat-lihat pemandangan; sebenarnya jalan tolnya ya agak mirip di Indonesia. Cuma entah kenapa ya, tiap kali aku pindah negara, aku selalu melihat warna-warna baru yang berbeda dengan di Indonesia. Seakan di negara baru ini warna-warnanya lebih banyak dan cerah. Kira-kira tiga puluh menit kemudian, aku diantar ke kompleks kos. Aku pun naik ke lantai 9 tempat kosku, lalu setelah kontak-kontak dengan agen, aku pun bisa masuk ke kamarku. Setelah dijelaskan ini itu dan diberi kunci kamar, aku ditinggalkan sendirian di kamar.

Lho, cuma kunci kamar? Iya, karena pintu depan dikunci secara elektronik :) tapi sampai sekarang aku tidak tahu cara membukanya dari dalam :D yang kulakukan selalu sama dengan membuka kunci itu dari luar: memasukkan PIN. Yang penting bisa keluar :D di kamarku ada kipas angin langit-langit dan AC, namun sayangnya remote AC-nya bermasalah. Kata agenku, dia akan coba cari gantinya, kira-kira setelah Lebaran. Hah? Saat itu, kondisi tubuhku agak melemah, sepertinya karena capai perjalanan jauh dan kurang istirahat karena tidak bisa tidur, jadi aku merasa agak masuk angin. Terutama setelah mencoba menyalakan kipas anginnya dalam kondisi paling kecil, tetap saja anginnya kencang bagiku. Aku tidak tahan paparan udara langsung dari kipas angin, maka dalam waktu singkat aku bersin-bersin ^^; sayangnya, itu adalah awal dari batuk dan pilek yang sudah lamaaaaa sekali tidak aku alami sejak pandemi (ya kecuali pas kena Covid, tapi selain itu aku tidak pernah sakit). Untungnya bawa obat pilek, tapi karena aku tidak pernah batuk, aku tidak punya obat batuk. Ya sudah lah, sekarang cari makan dulu...

Ternyata tidak ada tempat makan di kompleks kosku :o aku lupa pukul berapa waktu, rasanya sudah "sore", sekitar pukul tujuh sore (kenapa aku bilang sore? Karena matahari terbenam pukul 19.30, jadi menurut standar hidupku yang berpatokan dengan matahari terbenam di Surabaya, saat itu masih pukul setengah enam :D ah anehnya zona waktu Malaysia... ini bahkan lebih ekstrem dari kebingunganku waktu tinggal di Singapura dulu, yang mataharinya terbenam pukul tujuh petang), dan toh sebenarnya di pesawat dapat makan, tapi itu pukul sebelasan. Sudah waktunya makan bagiku. Ujung-ujungnya nemu tempat makan di seberang kompleks. Awal-awal masuk, agak takut juga, walaupun apa sih yang ditakutkan orang Indo di Malaysia terkait bahasanya :D pas minta menu, ternyata "oh scan aja di meja". Wow :o padahal tempat yang aku masuki itu "warung" (tapi jangan dibayangkan kaya warung kaki lima ya, ini lebih mirip depot di Indo). Ya sudah, scan QR, lalu pilih menu yang menurutku aman (lupa ...

Ternyata enak :love:

Malamnya, aku iseng nyalakan AC. Eh ternyata bisa :D cuma sayangnya karena tidak ada selimut, aku terpaksa pakai salah satu celana panjang yang kubawa dan pakai kaos kaki. Ternyata ini kesalahan besar, karena aku jadinya tidak bisa tidur karena kedinginan (suhu AC tetap tidak bisa diatur dari remote). Subuhnya (lupa pukul berapa), aku terbangun karena khawatir tidak bisa mematikan AC, dan benar saja... panik Googling caranya membetulkan remote yang rusak, apalagi di tubuh AC-nya tidak ada tombol power fisik. Mau mencoba app remote, seingatku HP-ku tidak ada IR-nya. Eh ternyata tablet-ku masih ada IR :clap: aku ngasal dulu unduh salah satu app (yang mengganggu banget karena banyak iklannya), lalu mencet tombol power...

AC-nya mati  :clap: :clap: :clap: sejak saat itu aku menggunakan Tab-ku untuk menyalakan dan mematikan AC. Aku hanya menyalakan menjelang tidur karena di kos hanya diberi gratis 50 KWh. Kalau melihat pemakaianku di Surabaya, itu sangat kurang dari cukup, jadi sepertinya nanti bakal bayar ekstra (0,6 ringgit per KWh kelebihan). Dilihat deh akhir bulan...

Hari Kamis, aku ke klinik terdekat karena sudah janjian untuk tes kesehatan yang diwajibkan EMGS. Dalam kondisi masuk angin, aku jalan kaki ke klinik, yang untungnya aku ketahui lokasinya setelah kemarin berpusing-pusing ria cari makan. Lumayan jauh, sekitar sepuluh menit jalan kaki. Sampai di sana... ya ampun kliniknya ber-AC dan masih menyalakan kipas angin :o musuh besarku yang lagi masuk angin. Setelah mengurus administrasi, aku dites X-Ray, darah, dan urin, sebelum terakhir ditensi. Awalnya tensiku 150/120 :o aku sempat bilang kalau kecapekan dan tidak bisa tidur, jadinya ditensi manual. 130/90, dibilang agak tinggi tapi ya sudah lah. Untungnya dinilai lolos  :'( misalkan tidak lolos, maka aku tidak jadi sekolah di Malaysia dan harus pulang. Ga kebayang kalau sampai tidak boleh sekolah  T_T

Hari-hari berikutnya... sama sih kegiatanku. Siang cari makan ke kompleks mal di seberang klinik, sambil beli-beli barang kebutuhan yang tidak kubawa dari rumah, seperti handuk, mug plastik untuk sikat gigi, silet, gunting, kantong sampah, tempat sampah (kekecilan ternyata kalau dibandingkan kantong sampahnya ^^; ), dan lain-lain. Saat kuhitung-hitung, sudah habis RM 100 hanya untuk barang kecil-kecil itu ^^; aku hanya bawa RM 1500 dan 800-nya sudah terpakai untuk melunasi biaya kos awal, jadi tersisa sekitar RM 600 saja bulan ini. Aku belum mencairkan biaya hidup dari Ubaya karena belum membuka rekening bank. Rekening bank hanya bisa dibuka kalau aku sudah mendapatkan visa pelajar. Visa pelajar hanya bisa didapatkan kalau aku sudah melunasi pembayaran masuk awal, dan itu baru kulakukan Sabtu kemarin, baru baca ketentuan ternyata mereka minta slip lunas bayar dulu baru bisa mengajukan visa pelajar :sigh: jadinya aku lumayan ngirit: kalau perhitunganku benar, dalam sehari aku tidak boleh makan lebih dari RM 26 supaya cukup. Pagi hari, aku makan sepotong roti, yang kuhitung rata-rata habisnya hanya satu ringgit. Siang, karena makan di mal (warung itu tutup di siang hari), agak lebih banyak (rata-rata aku habis RM 11-15), malamnya agak ngirit di warung (bisa dapat RM 6 kalau tidak pakai minum). Yah semoga bisa bertahan deh... sebenarnya temanku memberi tahu kalau ada ATM yang bisa menarik uang dari tabungan rupiah kita, selama kartu ATM-nya Visa atau MasterCard. Hanya saja, aku mau meminimalkan menarik uang dari tabungan rupiahku, karena hampir semua biaya saat ini aku nombok sendiri, dan tabunganku sudah menipis, padahal awalnya itu kusediakan untuk empat tahun. Ya sudah lah dijalani apa adanya, awal-awal tidak bisa hidup terlalu mewah, sebenarnya aku ya cukup terbiasa akibat bencana keuangan tahun lalu, tapi tetap saja rasanya bagaimana gitu, apalagi sekarang tinggal di negeri orang, masa tidak dinikmati... tapi bagaimana juga menikmati kalau uangnya habis ^^; 

Sekarang aku harus mencari tahu caranya pakai mesin cuci dan dryer di kos, atau kalau nggak ya laundry dulu di luar  ^^;
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
About.me https://about.me/hoshiro.exsharaen

Èxsharaèn

Save point...

Nggak terasa sudah sebulan tinggal di Malaysia. Kesan-kesan sejauh ini...

Dari sisi makanan, belum ada satu pun makanan yang aku tidak doyan di sini. Lebih kaya rasa dibandingkan Singapura, jadi agak mirip Indonesia. Walaupun biaya makan di Cyberjaya ini agak mahal, sekitar 25-35 ribu sekali makan normal (bukan di mal ya, kalau di mal bisa dua kali lipatnya lebih), namun menurutku makanannya enak-enak. Yang belum kucoba hanya restoran Arab/Timur Tengah sih, mahal soalnya ^^; 

Kenyamanan... kebetulan sekali lokasiku ternyata agak mirip Singapura. Trotoar pejalan kaki ada (walaupun ada satu sisi jalan yang tidak ada trotoarnya) dan lebar, sama seperti di Singapura. Yang aku keluhkan di sini hanya lampu merahnya saja. Tidak semua sisi jalan ada lampu merah untuk pejalan kaki, jadi aku harus pandai-pandai membaca lampu merah untuk kendaraan. Sampai sekarang masih sering salah baca ^^; dan yang kuamati, asalkan jalannya kosong, kendaraan pasti akan menerobos lampu merah. Kalau di Indo, pasti sudah kena tilang :D aku belum mencoba kendaraan umum, cuma di sini bus agak jarang sekalipun aku beberapa kali melihat bus feeder untuk MRT. Masjid ternyata cukup jarang ditemui, aku hanya mendengar suara adzan samar-samar dari kos, itu pun tidak sekencang di Surabaya. Selama Ramadan kemarin, ya cuma sesekali saja suara petasan dan kembang api. Malam Lebaran, tidak ada namanya takbiran; tidak ada suara apapun dari masjid. Yang ada hanya suara kembang api dan petasan, tapi itu pun tidak berlangsung nonstop, pukul dua pagi sudah berhenti. Yang aku keluhkan saat ini sih tidak ada gereja Katolik di Cyberjaya, jadi mau tidak mau sepertinya harus ke KL kalau aku ingin ke gereja, itu pun harus siap waktu perjalanan cukup banyak.

Keamanan... sekilas sih mirip seperti Singapura untuk saat ini, tapi kalau baca di Quora, yang aku dapatkan saat ini sepertinya eksklusif di kotaku saja. KL bisa tidak aman katanya. Aku sih belum punya rencana ke KL, kecuali nanti kalau sudah nemu gereja. Paling tidak, HP-an di jalan sudah jadi kegiatan umum. Kompleksku cukup aman, karena akses pintu masuk dan keluar hanya ada dua dan pasti melewati pos security.

Kebersihan... separuh mendekati Singapura, tapi aku masih bisa menemukan sampah sesekali di pinggir jalan. Bahkan kapan hari ada bangkai kucing di sisi jalan yang tidak ada trotoarnya :o tapi secara umum sih lebih bersih daripada Surabaya :D 

Lokasi... sejauh ini aku cukup puas dengan lokasi kosku. Walaupun perlahan-lahan nemunya, namun aku bisa menempuh sebagian besar kebutuhanku cukup dengan berjalan kaki saja, tanpa harus naik Grab ataupun nunggu bus yang cukup lama datangnya. Tempat makan hanya 5 menit saja, walaupun ditambah keluar kompleks sekitar 3 menit. Kalau pingin refreshing, ada Tamarind Square yang konsepnya mal terbuka, ini "agak jauh" sekitar 15 menit jalan kaki. Ke kampus, bisa 15 menit, cuma jalannya mendaki saat berangkat karena kampusku berbukit-bukit. Itu pun ternyata ada jalan pintas dari kompleks kosku, yang memotong jalan langsung ke dekat gedung fakultasku. Pertama kali aku mencoba ke sana untuk mengurus administrasi, aku membutuhkan 30 menit karena harus memutar jauh  ;D kalau kepingin nonton, ada bioskop TGV di mal yang jaraknya... 30 menit juga, gara-gara jalannya mendaki. Mal itu tidak terlalu besar juga sebetulnya, mungkin lebih cocok disebut plaza kalau di Indo. Aku tidak terlalu tertarik untuk kembali ke sana secara rutin, kecuali mungkin kalau harus beli sesuatu yang tidak ada di Tamarind Square. Sejauh ini aku selalu kembali ke Tamarind sih, karena ada MR DIY dan supermarket yang cukup besar.

Harga... kurasa tidak bisa benar-benar dibandingkan semuanya. Beberapa hal lebih murah, beberapa lebih mahal. Pelan-pelan aku mulai bisa menghitung cepat konversi ringgit ke rupiah, dengan patokan kasar 1 ringgit adalah 3500 rupiah, walaupun kalau lihat Google atau kurs bank fluktuatifnya lumayan di kisaran 3300-3400. Ada ATM di Tamarind yang bisa narik rupiah, tapi kursnya di atas 3500 dan sekali tarik kena biaya 25 ribu  >:( yaa selagi aku belum bisa buka rekening bank lokal, aku tidak bisa apa-apa sih. Uang sakuku sudah habis, jadi terpaksa tarik 500 ringgit. Ini pun hampir habis lagi, sisa 200-an ringgit :D  nah kalau ada yang nanya kok ga buka-buka rekening sampai sebulan...

Inilah satu hal yang menyebalkan dari Malaysia: administrasi. Lamban, beberapa butuh dokumen yang mestinya sudah pernah diminta, bahkan beberapa masih harus dicetak. Bayangkan, dari kedatanganku di Malaysia 5 April lalu, aku baru selesai mengurus administrasi mahasiswa baru tanggal 27 April!!! Mungkin beberapa akan bilang, ya maklum bulan Ramadan. Nggak deh, jangan jadikan bulan Ramadan alasan untuk bermalas-malasan. Secara umum, adminnya memang lelet; temanku sendiri cerita dia hampir menarik registrasinya dari MMU karena berbulan-bulan tidak diproses-proses. Untungnya aku relatif cepat... dari Januari :D berarti hampir tiga bulan untuk mengurus administrasi termasuk hingga visa pelajar. Sementara itu, kontrakku dengan Ubaya aku buat tanggal 15 Maret... rugi hampir dua bulan sebenarnya  :'(

Cuaca... di sini lebih ekstrem dibanding Surabaya ternyata. Siang hari bisa mencapai 34 C, dan itu terasa seperti 41 atau 42 C. Aku akhirnya terbiasa dengan kipas angin langit-langit, bahkan saat ini pun aku masih pakai kipas angin karena tidak berani banyak-banyak pakai AC ^^; listrik hanya gratis sampai 50 kWH, sisanya bayar sendiri. Anehnya, bulan ini aku nggak dapat tagihan listrik  ??? dilihat deh bulan depan, semoga saja nggak didobel... karena musim pancaroba sepertinya, perubahannya juga ekstrem: siang panas, sore hujan. Aku sudah dua kali masuk angin ^^; tapi akhirnya nemu Tolak Angin, ternyata ada di Watsons  :) terkait cuaca, aku masih tidak biasa dengan matahari di sini, yang terbit sekitar pukul setengah delapan pagi dan terbenam setengah delapan... petang? Jadinya, aku masih melaksanakan kegiatan sehari-hari sesuai waktu yang kukenal di Surabaya: kalau makan siang pukul dua belas siang, maka aku keluar kos sekitar pukul dua belas juga, walaupun secara teknis mataharinya masih pukul sepuluh ^^; demikian juga makan malam, sekitar pukul enam petang aku sudah keluar cari makan, walaupun di sini masih terasa seperti pukul empat sore. Akibatnya, jam tidurku juga semakin kacau: di Surabaya, aku biasanya mulai naik ke kasur pukul dua belas malam dan mulai tertidur sekitar pukul satu pagi. Di sini... nggeser satu jam, baru naik ke kasur jam satu pagi, lalu masih nonton YouTube sampai sekitar pukul dua atau bahkan tiga pagi, dan baru terbangun pukul sembilan atau sepuluh pagi sesuai matahari. Lebih parah daripada keadaan di Singapura dulu  ;D entah apakah aku bakal terbiasa ya, karena ini baru sebulan. Tapi dulu di Singapura aku juga kewalahan dengan matahari yang terbit/terbenam pukul tujuh sih, bahkan hingga kembali ke Indonesia pun jam tidurku tidak pernah kembali "normal". Mari kita lihat beberapa waktu ke depan :D

Terkait studiku sendiri, sudah mulai jalan sih, aku harus melapor tiap dua pekan sekali. Kedua supervisor-ku baik-baik, walaupun aku masih merasa agak sedikit canggung dan pendiam. Perlu semedi sih untuk laporanku berikutnya, katanya krusial untuk menentukan arah studiku...
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
About.me https://about.me/hoshiro.exsharaen

Èxsharaèn

Save point...

Wah sudah sebulan lagi ^^; sejauh ini studiku cukup lancar, walaupun dekat-dekat jadwal konsultasi biasanya aku jadi tegang dan tidak nyenyak tidur. Ya sebagian salahku sendiri sih karena aku mengerjakan tugasnya agak mepet-mepet (tahu sendiri lah kebiasaan orang Indo  ;D ). Memang susah mengendalikan diri saat tugasnya bisa dilakukan di mana saja. Aku belum dapat ruangan sendiri dan belum nanya juga sih, tapi sejauh ini aku lebih menikmati mengerjakan tugas di kos, karena aku night-owl selain hawa di sini saat siang hari sangat panas. Aku akhirnya iseng beli sensor suhu dan kelembapan digital punya Mi, dan suhunya konsisten di 30-32 C dan kelembapan 60-75%, baik siang maupun malam hari sebelum aku menyalakan AC. Ya, sepanas itu kamarku  :'( karena tagihan listrik ternyata muncul juga dan aku habis sekitar 300 ribu sekalipun sudah dapat subsidi 50 kWh, menyalakan AC jadi sebuah kemewahan tersendiri, jadi aku hanya menyalakan 8 jam saja mulai pukul sebelas malam, bahkan akhir-akhir ini baru kunyalakan selepas tengah malam, dan kubiarkan AC mati sendiri menggunakan timer. Memang idealnya kalau siang aku di kampus, di ruanganku kelak kalau sudah tersedia, dan mengerjakan studiku, tapi aku tidak terlalu produktif di siang hari. Biasanya, aku baru fokus selepas makan malam, sekitar pukul tujuh atau delapan waktu matahari. Eh?

Daripada membuat pusing karena matahari di sini tidak sinkron dengan nilai jarum jam, karena matahari terbit dan terbenam pukul setengah delapan, akhirnya aku membuat waktuku sendiri, "waktu matahari". Dengan patokan waktu matahari terbit dan terbenam, aku justru mengurangi waktu Malaysia dengan satu jam. Jadi, pukul delapan pagi, saat matahari sudah terbit dan cahaya serasa pukul enam pagi seperti di Surabaya, bagiku itu pukul enam pagi. Aneh sih memang, tapi otakku masih menolak untuk mengadopsi "matahari terbit/terbenam bukan di pukul enam"  :D sebenarnya jadi bertanya-tanya sih, teman-teman di Sumatra, yang lebih barat dari Malaysia, apa juga mengalami kecanggungan yang sama ya? Atau sedari kecil sudah diajari bahwa matahari tidak selalu terbit/terbenam pukul enam. Hanya saja, badan dan otakku menolak bekerja sama untuk menetapkan waktu makan siang dan malam  ^^; saat ini, aku masih mengikuti kebiasaan lama yaitu makan siang pukul dua belas siang, jadi saat jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, aku biasanya sudah mulai bersiap-siap berangkat. Akhir-akhir ini aku berhasil memundurkannya ke pukul satu siang, walaupun menurut jam matahari itu masih pukul sebelas. Selain itu, kebiasaan masyarakat sini juga sepertinya makan siang pukul satu, karena tiap aku masuk ke tempat makan, sudah banyak yang makan siang. Untuk makan malam, aku belum bisa memundurkan terlalu jauh. Kebiasaanku di Surabaya adalah makan selepas matahari terbenam, yaitu pukul enam sore. Di sini, paling lambat aku baru bisa menahan lapar pukul setengah tujuh, jadi paling lambat makan malamku adalah pukul tujuh sore (karena mataharinya masih pukul lima). Namun, kebiasaanku tetap berangkat makan malam mulai pukul enam, kecuali tiap hari Minggu karena misa daring baru selesai pukul setengah tujuh.

Kemampuan bahasa... bahasa Melayu-ku belum meningkat sepertinya ^^; ya memang belum punya kesempatan berbicara panjang lebar sih, sejujurnya aku belum punya teman di sini. Bicara bahasa Melayu hanya seperlunya dengan kasir saja, itu pun kalau aku yakin kalimatku tidak salah. Selain itu, aku menggunakan bahasa Inggris, terutama di restoran masakan Cina yang kadang-kadang (seringnya sih) kasirnya tidak bisa bahasa Melayu. Agak sedikit merepotkan memang, karena aku sendiri ya tidak bisa bahasa Cina (malas belajar :P ), tapi untungnya masih bisa mengerti satu sama lain sekalipun aku ngomong bahasa Inggris dan dia bahasa Mandarin. Kadang aku bisa menangkap apa yang dia maksud, toh kan membacakan total bayar dan uang di sini cukup kecil angkanya (biaya makan rata-rata di restoran itu hanya belasan ringgit), tapi tetap saja aku tidak bisa bicara dalam bahasa Mandarin :D tapi berhubung itu satu-satunya tempat aku bisa makan babi, ya sudah lah...

Aku belum sempat mencoba bepergian lebih jauh menggunakan transportasi umum, selain sebenarnya kan aku bukan liburan juga di sini. Besok kebetulan ada libur hari ulang tahun Yang Dipertuan Agung dan baca-baca katanya ada perayaan di KL, tapi aku malas pergi sejauh itu  :D ah rasanya umurku sudah tidak menginginkan jalan-jalan, walaupun kadang aku masih penasaran dengan taman yang ada "dekat" sini (kira-kira 15-20 menit jalan kaki, hanya saja jalannya menanjak jadi aku malas ke sana). Aslinya bosan juga dengan tempat yang kukunjungi itu-itu saja, bahkan aku sudah mulai bosan dengan makanan di sekitar sini, sekalipun belum semua restoran kumasuki. Pekan lalu aku baru menemukan tempat makan di dalam kompleks, namun suasananya yang luar ruangan dan harga yang relatif sama dengan tempatku biasa makan, yang ber-AC atau ada musik, aku jadi enggan makan di sana. Yah mungkin besok-besok saat aku sudah bosan betul dengan makanan di sana, sekalipun menunya mirip-mirip. Aku masih penasaran dengan restoran Timur Tengah, hanya saja belum kumasuki karena harganya di atas rata-rata (sekitar 20-30 ringgit). Ya memang sih aku sudah dapat biaya hidup dari Ubaya jadi aku tidak perlu pusing lagi dengan isi dompet atau tabungan yang harus kuisi dari tabunganku sendiri, tapi tetap saja aku harus berhati-hati dalam mengatur pengeluaran, karena makan ini tidak bisa ditawar. Pakai Grab, Shopee Food, atau Food Panda pasti malah akan membuat pengeluaranku bengkak, jadi tidak ada pilihan lain selain makan di tempat-tempat yang aku tahu sendiri harganya terjangkau. Aku sudah membuat perhitungan, asalkan dalam sehari total pengeluaran makanku di kisaran 20 ringgit, harusnya aku tidak terlalu banyak nombok. Memang danaku pasti tidak cukup, dan untungnya aku sudah siap dengan tabungan, selain tiap bulan aku tetap digaji seperti biasanya, termasuk kalau ada tunjangan tertentu.

Kadang-kadang, aku merasa kesepian juga karena tidak ada yang diajak ngobrol. Orang-orang yang tinggal di satu flat ini jarang ngobrol satu sama lain juga dan lebih sering berada di luar atau di kamar masing-masing, jadi sampai saat ini pun aku belum mengenal siapapun, termasuk ketika ada yang keluar akhir bulan Mei yang lalu. Aku belum menemukan orang Indo lain di sekitar kosku, yah kecuali alumni yang tinggal di apartemen seberang kompleks, tapi kami pun jarang ketemu. Kapan hari sebenarnya sempat berpapasan dengan orang Indo yang bahkan ngobrol pakai bahasa Jawa, mungkin ART atau TKI aku tidak tahu pasti, sepertinya bahkan tinggal di lantai yang sama. Sayangnya aku belum bertemu lagi dengan mereka. Aku juga belum punya teman sesama S3 dari Indo, bahkan aku tidak tahu siapa saja yang sedang S3 di sini. Yah memang belum kuliah sih, mungkin nanti kalau sudah kuliah baru aku bisa punya teman. Akhirnya, sehari-hari aku hanya bisa WA, namun itu pun tentunya tidak bisa ngobrol sewaktu-waktu atau sepanjang hari, tergantung kesibukan masing-masing. Aku hanya beberapa kali juga telepon dengan mamaku, memang cukup bisa mengusir kangen sesaat, tapi besok-besoknya ya muncul lagi  :( akhirnya aku tiba juga pada konklusi itu bahwa ternyata tidak enak juga hidup sendirian tanpa ada orang yang diajak ngobrol, padahal di usia 20-an kukira aku bisa hidup seperti itu. Yah dulu memang aku bisa memenuhi kebutuhan itu dengan chat, tapi sekarang aku merasa chat itu tidak sama dengan ngobrol langsung. Yah semoga aku bisa segera menemukan seseorang untuk kuajak ngobrol terutama dalam bahasa Indonesia...
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
About.me https://about.me/hoshiro.exsharaen

Èxsharaèn

Wah sudah lama juga aku nggak nulis save point... entah kenapa dulu kok bisa tiap hari, sekarang sepertinya hanya nulis kalau lagi kepingin saja. Terutama kalau pas ada kenangan yang... buruk?

Studiku berlanjut "normal", walaupun aku jadi merasa aneh karena berdasarkan cerita di luaran sana S3 itu sulit. Dan akhirnya aku menemukan rintangan pertama sih... ketika ngobrol dengan teman tim penelitianku yang terakhir, aku baru sadar kalau aku belum minta izin ke semua anggota penelitian untuk memakai materinya, baru bilang ke ketuanya saja. Dia bilang mau memikirkan solusinya juga, karena aku juga sudah terlanjur jalan menggunakan materi itu, walaupun ada perubahan sebenarnya. Yang pertama, strukturnya sedikit kuubah sehingga lebih banyak interaktifnya dan sedikit mandiri, walaupun masih ada saat-saat ketika aku meminta penggunanya berdiskusi. Itu nanti perlu kudiskusikan dengan supervisor-ku sih, termasuk masalah copyright ini. Ini sempat membuatku down kemarin, bahkan sampai hari ini aslinya kepikiran. Tapi karena hari ini tiba-tiba dideklarasikan sebagai hari libur negara bagian oleh pemenang pemilu, jadinya aku tidak mengerjakan apa-apa hari ini. Semoga besok aku bisa mengumpulkan niat lagi dan melupakan sejenak masalah copyright itu. Ya sebenarnya kemungkinan besar mereka setuju-setuju saja sih, terutama karena aku sudah mau mengambil tema kedokteran yang mungkin akan terpakai untuk mereka, tapi tetap saja.

Ah dasar otakku yang suka sekali overthinking... sampai saran-saran video YouTube-ku mulai banyak isinya psikologi atau pikiran, tapi entah kenapa aku tidak bisa mengubah cara pikirku. Mungkin dia lebih suka aktif seperti ini, banyak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang aslinya aku tahu tidak sehat, karena hampir setiap waktu segala kemungkinan itu melibatkan faktor eksternal yang tidak bisa kukendalikan. Tapi... entah kenapa ini terus saja kulakukan. Ketika sudah stres sampai segitunya, mood-ku langsung turun drastis, bahkan makan pun rasanya tidak selera. Kemarin malam cuma makan Indomie, dan malam ini juga makan mi instan lagi sekalipun tadi siang sudah keluar makan. Tapi karena cuaca hari ini cukup sejuk sih, bahkan tadi siang sempat gerimis. Sore ini tadi kulihat awan mendung cukup tebal, jadi untung saja aku sudah beli mi cup, walaupun sampai saat ini belum hujan juga.

Entah lah, ini semua sebenarnya tidak kuinginkan dan aku sudah menduga bakal seperti ini nantinya waktu S3. Aku tidak pernah punya keinginan untuk studi lanjut, karena aku tahu jiwaku sebetulnya bukan sebagai peneliti. Dulu aku selalu berpikiran positif, mungkin saat S3 ini nanti akhirnya aku tertarik untuk menjadi peneliti. Ternyata sih... belum ada perbedaan perasaan ke arah sana. Semuanya saat ini kulakukan sendiri, sementara waktu penelitian terakhir yang dalam tim tentu saja ada pembagian pekerjaan, dan aku bagian eksekusi software. Sekarang, semuanya aku sendiri yang melakukan. Bahkan, semua aset kukerjakan sendiri, walaupun dengan bantuan model 3D gratisan dan AI. Rasanya lebih overwhelming, dan ini baru empat bulan berjalan. Rangkaian waktu yang harus kujalani? Idealnya tiga tahun. Tenggat waktu pertamaku pun tak terasa mulai mendekat, yaitu Desember tahun ini. Sudah separuh jalan sebenarnya ya? Memang, tapi semakin hari aku semakin gelisah dan khawatir, gimana nanti kalau hasilnya tidak baik, gimana kalau tidak lulus, dan seterusnya. Ya akibat otakku yang doyan overthinking itu tadi, dan aku tidak bisa mencegahnya.

Nah kan, saat tiduran, pikiranku malah melayang jauh ke masa depan, masa pensiun, apa dananya cukup dan lain-lain...
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
About.me https://about.me/hoshiro.exsharaen

Èxsharaèn

Save point... astaga ternyata susah mengulangi kebiasaan lama ini  :S

Aku masih belum menikmati studi S3 ini. Selain dibayang-bayangi kekhawatiran tentang ujian dan ketidaklulusan--sepertinya trauma S2 muncul lagi, sejauh ini pekerjaanku seakan tidak jelas arahnya. Memang sih sekarang sudah hampir selesai purwarupa pertama dan mulai disuruh nulis paper, tapi bahkan aku tidak diberi tahu cara menulis paper yang baik. Akibatnya, kebiasaan lama terulang: satu pekan setelah konsul santai, satu pekan menjelang konsul stres berat. Bahkan, akhir-akhir ini aku kebas alias brain freeze: nggak melakukan apa-apa untuk mengerjakan tugas. Sudah berkali-kali, malamnya berdoa dan minta niat supaya besoknya bisa muncul niat untuk kerja, besoknya niat itu hilang. Sampai hari ini itu terjadi juga, padahal semestinya besok sudah waktunya konsul, walaupun aku belum tanya jadwal.

Mulai Rabu ini aku ada kuliah, pukul enam sampai sembilan malam, secara daring. Agak bingung mengatur waktu makan, karena biasanya aku makan malam pukul tujuh atau delapan paling telat. Mungkin harus beli nasi instan yang tinggal dipanaskan di microwave...
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
About.me https://about.me/hoshiro.exsharaen

Èxsharaèn

Save point...  ya ampun sudah tujuh bulan berlalu... aku bingung harus nulis dari mana dulu.

Mungkin aku akan memisah-misahnya jadi beberapa tulisan saja. Ada beberapa kenangan yang menegangkan, menyenangkan, dan menyedihkan. Pasti akan panjang sekali menuangkan tujuh bulan pengalaman hidupku ini dalam sebuah tulisan. Jadi, biar tidak terlalu panjang, beberapa rasanya akan kurangkum saja.

Kuliahku akhirnya selesai sekitar bulan Januari 2024. Ya, aku tidak pulang ke Indonesia sepanjang akhir tahun untuk merayakan Natal, bahkan sehari sebelumnya aku masih ada kuliah. Termasuk sehari sebelum akhir tahun. Dua hari raya itu sepertinya tidak dirayakan besar-besaran di kotaku, walaupun memang ada hiasan Natal setidaknya. Untuk menghibur diri karena tidak bisa misa Natal di gereja, aku sempat beli dua buah gingerbread. Sementara itu, untuk tahun baruan, hanya ditemani teman-temanku main gim daring, seperti tahun-tahun yang sudah-sudah. Bahkan aku juga tidak bisa pulang untuk merayakan Imlek karena aku tidak yakin maju sidang kapan, selain jadwalnya terlalu dekat dengan pemilu di Kuala Lumpur. Saat itu, supaya tidak terlalu sedih, aku sempat beli hiasan Imlek berupa boneka naga mungil, kertas bertuliskan fu, dan tak lupa jeruk imlek. Makan malam Imlek hanya berupa ikan penyet saja supaya tidak terlalu mahal (ada temanku yang bilang makan malam Imlek sebaiknya ikan supaya rezeki melimpah). Ya tetap saja sebenarnya sedih sih...

Sampai akhirnya aku dinyatakan boleh daftar sidang. Agak was-was juga, dan sambil menunggu jadwal sidang, aku seperti tidak bisa berbuat apa-apa. Main tidak selera, nonton juga bosan. Aku tidak ingat lagi bagaimana aku melalui hari-hari itu sampai akhirnya jadwal sidang muncul hanya 10 hari sejak pendaftaran. Tidak sempat konsultasi untuk latihan sidang, jadi aku bikin slide apa adanya. Dan ternyata mungkin aku melakukan beberapa kesalahan di sana-sini. Ada beberapa komentar, namun terutama yang saat ini masih menjadi beban pikiranku adalah, konten informatikaku tidak ada. Aku tidak tahu konten seperti apa yang diharapkan, dan saat sidang ditutup aku pun pasrah saja kalau harus mengulang sidang untuk mencari konten tersebut.

Tidak ada lima menit, supervisor-ku kirim WA. "Congrats! You passed."

Astaga, saat itu juga rasanya tubuhku jadi sangat ringan. Segala macam ketegangan yang kualami berhari-hari, bahkan malam sebelum sidang sampai tidak bisa tidur, mendadak lenyap begitu saja, yang tersisa hanya kelelahan luar biasa, tapi juga kelegaan luar biasa. Karena akhirnya aku berhasil melewati satu rintangan besar yang bisa menggagalkan studiku. Saat itu juga aku minta jadwal konsul, dan langsung mengabari orang tuaku, yang ternyata salah waktu menunggu jadwal sidangku. Kalau tidak salah, hari Senin aku konsultasi untuk langkah berikutnya, dan aku diizinkan pulang.

Begitu senangnya mendengar hal itu! Aku sudah sebelas bulan tinggal sendirian, tanpa ada yang kuajak bicara langsung (penghuni kos tidak ada yang suka ngobrol), dengan tingkat stres yang begitu tinggi. Langsung aku merencanakan kepulangan, yang kebetulan sekali sepekan sebelum Pekan Suci Paskah. Sisa hari kumanfaatkan untuk beli berbagai oleh-oleh, walaupun tidak banyak yang bisa kubawa. Sebenarnya perasaanku campur aduk juga, karena aku mulai menikmati suasana kota itu. Yah, kepulanganku tidak lama, seharusnya...
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
About.me https://about.me/hoshiro.exsharaen