Berita:

Update RPN OJ forum! Petualangan keenam kelompok Trihörrèan di Kerajaan Líghtran berlanjut. Sanggupkah mereka mengakhiri masalah di Líghtran? Baca rangkuman kisah maraton sesi terakhir di sini dan lanjutkan petualangan mereka.

Main Menu

Hilangnya nilai kekeluargaan di masyarakat

Dimulai oleh Stash, 18 Maret 2013, 08:19:46

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Stash

Aku agak miris melihat berita di televisi beberapa minggu ini. Contoh saja, seorang nenek dilaporkan ke polisi oleh anaknya sendiri hanya gara-gara sebuah pohon.
Ada juga kasus perkelahian 2 anak yang berakhir di meja polisi.
Atau yang lebih populer adalah kasus cakar-cakaran antara Jupe dan Depe, yang berakhir dengan Jupe divonis 3 bulan penjara dan depe divonis 2 bulan penjara.

Aku merasa aneh aja. Kasus ini sebenarnya kasus yang gak layak sekali masuk ke pengadilan. Maksudku, yang bener aja, anak melaporkan ibunya sendiri hanya gara-gara sebuah pohon yang ditebang?!? Dua orang harus dipenjara hanya gara-gara cakar-cakaran antar mereka sendiri yang tidak menghasilkan kecelakaan yang besar?!? 2 anak berumur 12 tahun harus berurusan dengan polisi?!?

Aku jadi ingat lelucon temanku "Apa dong gunanya polisi, kalo harus memakai cara kekeluargaan?" Lelucon yang simpel, tapi mungkin lelucon ini lahir karena realita di masyarakat yang sudah mulai melupakan yang namanya penyelesaian kekeluargaan. Dimanakah nilai toleransi, kekeluargaan, simpati, empati, tenggang rasa, dkk yang diajarkan di PMP atau PPKn di agama masing-masing?

Twitter ID : stefano1003
Facebook : http://www.facebook.com/stefano.ariestasia
Google+ : stefano.ariestasia
Blog : http://catatanstefano.wordpress.com

Èxsharaèn

Kutip dari: stash pada 18 Maret 2013, 08:19:46
Aku jadi ingat lelucon temanku "Apa dong gunanya polisi, kalo harus memakai cara kekeluargaan?"

Ini kan quote juga :D Dao Mingsi di Meteor Garden pernah bilang kan, kalau semua bisa diselesaikan dengan minta maaf, untuk apa ada polisi :P

Rasanya sih polisi sekarang juga pada pegel, masalah sepele dikit-dikit dilaporin. Sebenarnya terasa sih, sejak era reformasi, entah kenapa negeri yang adem ayem sebelumnya tiba-tiba "meledak" begitu saja, dan ga ada yang bisa ngerem sampai sekarang. Malah kayanya kasus-kasus yang kamu kutip itu sudah jadi suatu "kebiasaan". Lumrah terjadi, dan harus diselesaikan di kantor polisi atau meja hijau. Makanya beberapa tahun belakangan ini aku malas sekali nonton TV, baca koran; intinya tahu berita lah. Dan selama di Singapura ini aku sama sekali ga tahu apa yang terjadi di Indo. Ada untungnya sih, jadi ga ikutan stres baca berita aneh-aneh kaya gitu :D

Ga tahu ya PPKn sekarang di sekolah-sekolah diajarkannya kaya gimana. Apakah masih sekedar teori? Gimana dengan peran guru BP?
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
About.me https://about.me/hoshiro.exsharaen

Stash

Ooow, aku gak hafal dialog-dialog meteor garden :D

Iya sih, sejak reformasi, rasanya Indonesia jadi negara yang "ramai". Ramainya bukan dalam hal yang baik (ramai kerja, ramai berinovasi), tapi ramai demo, ramai rusuh, ramai tawuran, dkk. Jujur, aku selama 3 tahun kerja di Singapur, emang enak sih. Sudah ada kepastian keamanan. Gak ada namanya buruh demo trus tutup pabrik seenaknya, nutup jalan seenaknya. Di sisi lain, ya demokrasi (katanya) dikekang. Tapi toh di Indonesia, demo gak dilarang, tapi apa sih hasilnya? Rasanya sama aja.

Ada kasus yang lucu di Manokwari. Ada orang yang mencaplok tanah orang lain, trus ketika pemilik tanah mencoba diskusi baik-baik, dia menolak. Ya udah, naik ke pengadilan. Pengadilan negeri sudah memenangkan pemilik tanah yang sah. Tapi si pencaplok masih gak terima, dinaikkan terus sampai ke Mahkamah Agung. Lucu ya, sudah mencaplok, sudah kalah, masih ngotot.

Twitter ID : stefano1003
Facebook : http://www.facebook.com/stefano.ariestasia
Google+ : stefano.ariestasia
Blog : http://catatanstefano.wordpress.com