Tulis jawaban

Peringatan: topik ini belum dituliskan setidaknya 120 hari.
Kecuali Anda yakin ingin menjawabnya, harap pertimbangkan untuk memulai sebuah topik baru.
Nama:
Email:
Subyek:
Tags:

Seperate each tag by a comma
Ikon pesan:

Anti-spam: complete the task

jalan pintas: tekan alt+s untuk mengirim/menulis atau alt+p untuk meninjau


Ringkasan Topik

Ditulis oleh: Stash
« pada: 02 Desember 2013, 12:01:29 »

Intinya asuransi tuh begini. Kalo kamu beli asuransi, dan meninggal dalam jangka waktu sekitar 1-2 tahun sejak kamu bayar premi, kamu untung. Selain itu, kamu aslie sekedar menabung di perusahaan itu, yang baru bisa ditarik uangnya pas kamu meninggal.

Jadi mau untung besar? Beli'o asuransi, trus meninggal cepat....
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 02 Desember 2013, 02:04:13 »

Lagi, temanku memanfaatkan momen meninggalnya salah satu bintang film Fast and Furious untuk berjualan asuransi. Aku gatal sekali pingin jawab: tahu iklan Visa? There's some things that money can't buy. So how could insurance assure those things?

Lama-lama gerah juga dengan orang-orang macam itu...
Ditulis oleh: Stash
« pada: 14 November 2013, 12:45:10 »

Sekedar mengingatkan saja sih, pada akhirnya jasa asuransi adalah jasa bisnis bermotivasi profit. Kalau perusahaannya gak untung, gak mungkin perusahaan asuransi bisa menjamur. Bagaimana cara mereka mendapat untung? Mungkin uang nasabahnya di putar di pasar modal dan investasi. Atau mungkin didapat dari uang nasabah yang gak diklaim (aku tahu ada perusahaan yang memberikan asuransi ke pegawai, tapi kalau sakit, pegawainya malas klaim asuransi karena dianggap ribet). Ya, manfaatnya bagus memang, dan aku gak mengatakan asuransi itu haram. Tapi cara mereka menjual yang aku gak suka.
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 13 November 2013, 10:49:06 »

Ntar deh, lagi di-charge HP-ku :D intinya sih tadi kutanyakan dua orang, kebetulan sama-sama agen di tempat yang sama, tapi satunya agenku sendiri. Jawabannya lebih memuaskan timbang temanku yang memang masih "hijau" :P
Ditulis oleh: Stash
« pada: 13 November 2013, 07:15:30 »

Mana hasilnya? :D
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 13 November 2013, 01:59:28 »

BM baru:

Kutip
Kompas, Kamis / 31 Oktober 2013.
"Rumah dan Mobil harus DIJUAL u/ Berobat".

Seorang guru PNS, bernama Akhdiat (48thn) dengan income Rp 8jt/bln TERPAKSA menjual Rumah dan mobil utk membiayai pengobatan anaknya Faizal (14thn) akibat Tumor Otak (sakit kritis). Padahal sudah memiliki ASKES dan JPK. Namun yang ditanggung hanya 70jt, sedangkan biaya yang dibutuhkan LEBIH dari 120jt. Detailnya baca Kompas.
IRONIS, banyak orang mengandalkan Asuransi dari Kantor/Pemerintah, Padahal Asuransi dari kantor BELUM CUKUP apabila terkena SAKIT KRITIS. Dan Asuransi dari kantor hanya didapat selama mereka bekerja, klo PHK/tidak bekerja lagi fasilitas Asuransi tidak didapat. Banyak orang menutup mata dengan mengatakan "saya nggak ada uang utk Asuransi, buang2 uang dengan Asuransi" tetapi, utk  beli Motor, Mobil, Rumah sangat bisa. Padahal klo sudah sakit kritis mereka RELA menJUAL semuanya. FENOMENA sekarang yang sakit kritis bukan lagi orang yg usia 50tahun ke atas tetapi usia 14thn pun bisa terjadi.
Alangkah Bijaknya:
1.) Jika SUDAH punya Asuransi, kita coba lihat kembali manfaatnya apa sudah mencukupi atau belum?
2.) Jika BELUM punya Asuransi, SEGERALAH memilikinya. Dengan Sisihkan min.10% dari penghasilan utk PROTEKSI.

Sebab, KABAR BURUKNYA: TIDAK semua orang bisa punya Asuransi. syaratnya harus SEHAT. Klo sudah pernah sakit kritis mau ambil asuransi 10jt/bulan pun pasti diTOLAK.
Semoga informasi ini bisa berguna utk merencanakan masa depan yg terbaik utk Anda dan Keluarga.
Yuk, mari kita Cek manfaat Polis kita sekarang,,

Ada beberapa pertanyaan dari stash, sedang kutanyakan ke agenku, karena menurut BM itu aku harus melihat kembali manfaat polisku, dan kebetulan nominalnya lebih besar dari contoh kasus itu.
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 13 November 2013, 12:28:18 »

Itu dia posisi sudah "oh iya ya, jadi ceritanya kurang lengkap ya?", ngapain dilanjutin :D kamu kan yang suka panas-panas :D
Ditulis oleh: Stash
« pada: 12 November 2013, 03:49:54 »

Cuma segitu aja debatnya? Kurang panas.....
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 12 November 2013, 02:22:31 »

Nih ada jawaban dari temanku yang agen asuransi masalah kasus BM itu:

Kutip
Untuk klaim kematian memang sebulan. Tapi untuk HS rumah sakit paling lama 14 hari.

Sah dong kalau aku kemudian tanya. lho berarti dalam sebulan itu bisa terjadi apa-apa dong? Jawabnya:

Kutip
Apa-apa maksudnya kalau butuh dana darurat ya? Tapi setelah cair kan bisa dibayarkan semua dengan UP-nya. Maksud cerita itu adalah pentingnya punya proteksi juga seperti ikut tabungan di bank, ikut cicilan, dsb.. Karena mereka ga mungkin kasih toleransi kalau yang cicil meninggal.

Lho, aku ga mentingin klaimnya. Anggaplah aku percaya penuh sama pihak asuransi kalau klaim itu pasti terbayar. Tapi, jeda satu bulan itu? Istriku pasti butuh biaya pemakaman, yang sekarang saja sudah ga murah. Lalu hidup hanya dari tabungan? Cicilan gimana?

Kutip
Oh proteksi buat istri? Kalau misalnya istri ikut, ada kok. Ada istilahnya .... (kupotong supaya ga ketahuan ini asuransi mana). Kalau suami meninggal, nanti premi istri free. Ga usah setor, nanti disetori sampai usia tertentu sesuai perjanjian.

Tapi di cerita itu kan posisi istri ga ikut asuransi?

Kutip
Kalau misalnya istri ga ikut, ya ga ada proteksi. Soalnya di X berlaku yang ditanggung 1 polis 1 orang.

Nah lho, kontradiksi dengan cerita itu :D
Ditulis oleh: Stash
« pada: 12 November 2013, 01:13:50 »

Aku belakangan kok merasa profesi agen asuransi itu benar-benar hanya untuk orang yang "urat malunya putus".

Barusan ada kejadian aneh tapi nyata. Tanteku ngajak mamaku dan 2 orang tanteku yang lain untuk makan siang di sebuah restoran yang mahal (dan kebetulan sekali 3 orang itu ada pernah ambil satu polis asuransi di dia). Aku sih gak ngurus kalau dia mau traktir makan orang. Tapi ketika dia datang, dia sudah membawa polis asuransi yang siap diisi. Jadi silahkan tebak sendiri apa sebenarnya niatan dia ngajak makan siang......

Kalimat yang paling sering dia pake "aku gak mungkin menjual barang yang merugikan saudara sendiri" yang dibalas oleh mamaku "masalahnya itu bukan perusahaanmu, jadi kamu sendiri pun aslinya gak ada kuasa apa-apa kan? Dia kalau ntar merugikan aku, kamu pun gak bisa berbuat apa-apa" :D

Dia sekarang lagi giat-giatnya nyari pelanggan baru, mungkin karena masih jauh dari target. Setelah para saudaranya gak ada yang berminat, keponakan-keponakannya yang dikejar >.>

Edit: Ah, baru ingat satu lagi kalimatnya dia "Aku ini bekerja amal lho, mengajarkan orang-orang untuk menanamkan uang dengan baik" yang dijawab mamaku lagi "Kalau gitu, kamu jangan ambil komisinya, itu baru amal namanya" :D
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 12 November 2013, 12:10:37 »

Sudah lama sekali kasus itu. Aku ya pernah kena kok, dan mereka memang mengatakan kalimat semacam, "...Bapak tidak perlu mengisi formulir lagi karena percakapan telepon ini direkam sebagai bukti (apa gitu)..., apa Bapak bersedia?" Jadi, kalau jawabannya sesuai dengan alur mereka dan kebetulan jalur akhirnya ke "Selamat, Anda terdaftar (dan saya dapat komisi)!" ya gitu deh, autodebet akan mengalir tiap bulan. Bisa kok diklaim ke bank, minta dibatalkan. Kasus terakhir, aku ngeyel bahwa aku sudah punya asuransi, lha ngapain dobel-dobel, wong semua sudah tercover. Dia bilang, oh nggak apa-apa, kita juga bisa diklaim kok nanti kalau memang terjadi sesuatu, jadi Bapaknya dapat keuntungan ganda. Padahal arah percakapanku sudah jelas ke arah tidak, tapi dia berkilah terus. Lama-lama, saking jengkelnya, kujawab ya di pertanyaan yang kusebut tadi, tapi setelahnya malsu kondisi kesehatan, dengan bilang kena diabetes, hipertensi sampai 300 (padahal gak mungkin :D), dan pernah kena asma. Begitu salah satu pertanyaan "Apakah Anda punya/pernah terkena ..." itu Ya, kemungkinan supaya polis disetujui menurun drastis. Entah kalau setelah itu dataku disebarluaskan, tapi biar deh, toh aku sudah punya asuransi sendiri :D

Bahkan petugas administrasiku pun bilang, pokoknya kalau ada telepon itu, ga usah diladeni, langsung ditolak atau ditutup aja. Bahkan pernah aku dikejar, ditelepon di kantor (ini pasti data dari bank, sekalipun aku ga ingat pernah ngasih nomor telepon kantor) tapi pas jam istirahat, ya aku mau keluar makan dong. Eh setelah jam istirahat ditelepon lagi. Sempat kujawab beberapa saat, tapi kuputus di tengah dengan alasan mau rapat. Lha berikutnya malah telepon langsung ke nomor ponsel... Gigih sih iya, tapi caranya menyebalkan...
Ditulis oleh: Stash
« pada: 12 November 2013, 11:25:35 »

Males aja :D

Nemu satu kasus baru di satu grup FB yang aku ikuti

Kutip
Halo..halo..I need help. Wkwkw...hari ini saya mendapat surat cinta dari sebuah perusahaan asuransi dan di dalamnya mnyatakan saya terdftar. Ternyata ini trjadi krn telemarketing satu bulan lalu yg saya trima. Karena sdg sibuk dan ribet, saya ga konsen sama telp itu. Asuransi ini akan masuk ke tagihan credit card saya setiap bulan. Ada kaitan dgn UU ITE ga ya? ada yang bisa bantuin??

Untuk diketahui, dia gak ada tanda tangan apapun di atas meterai, gak ada fotokopi KTP, bahkan dia gak ada kasih data kartu kredit sama sekali. Tiba-tiba saja polis asuransinya datang, dengan data lengkap dirinya tanpa ada persetujuan tertulis dari dirinya.

Menurut beberapa orang di grup itu
Kutip
hukum Indo itu lucu, segala bentuk dokumen digital itu ngga sah (or at least grey area yg bisa jadi masalah secara hukum), jadi kalau kita kirim formulir pakai scan trus email, itu nggak sah, tapi kalau di fax jadi sah
segala yg kita ucapkan di telepon dan direkam itu sah, sama kekuatannya dengan tandatangan kontrak di atas materai
sumber : pengacara kantor di Indo dulu, waktu ada kasus

memang ngeri sekali
yg lebih parah lagi, UU Indo bahkan tidak mewajibkan si perekam menyebutkan bahwa pembicaraan itu direkam
jadi bisa saja A ngobrol sama B di telepon, B merekam diam2, dan apa yg dikatakan A di telepon itu menjadi komitmen hukum, bisa dituntut oleh B

yg ini coba diurus ke bank nya
untuk ke depan: telemarketing langsung ditolak dengan tegas saja, ngga perlu basa-basi dan ngga perlu sungkan

Hati-hati deh kalau ada orang yang menawarkan produk via telepon. Jangan pernah mengiyakan tawarannya di telepon.
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 11 November 2013, 09:43:43 »

Apa gunanya terus kamu pakai BBM for Android kalau malas nyalin tempel >.>

Kutip
"Mama Jangan Ambil Uang Saya"

Suatu pagi, seorang suami pergi bekerja. Pada perjalanan ke pabrik, terjadi kecelakaan & dia meninggal seketika.

Dua minggu kemudian, tetangga melihat truk toko furniture menyita sofa, meja makan, lemari besar, bahkan "double-bad"!. Para tetangga mengerti "cicilan lunak" ternyata sudah tak lunak lg pembayarannya!

Bbrp minggu kemudian, tetangga melihat 4 pria beringas mendatangi si janda. Mereka memperlihatkan secarik kertas & menunjuk ke arah Honda Civic milik almarhum. Si janda memberikan kunci mobil lalu masuk ke rumah.

Bbrp hari kemudian, tetangga melihat loper koran minta tagihan dibayar. Si janda masuk ke rumah & terdengar suatu benda yg pecah, lalu terdengar tangis anaknya, "Mama, jangan ambil uang saya"...:'(
Ia membayar loper koran dgn uang receh!
Itu saat terakhir tetangga melihat si janda.

Suatu siang, seorg pria dgn volvo biru mengkilat berhenti & mengetuk pintu rumah janda. "Tidak ada orang" kata tetangga. Krn merasa ada yg tdk beres, pemuda itu mendatangi rumah tetangga & memperkenalkan diri sbg Agen Asuransi. Kedatangannya utk memberikan kpd si janda, uang asuransi yg menjadi haknya.
Mendengar hal itu, para tetangga segera memberitahu si janda utk membuka pintu. Ketika pintu terbuka, si agen tak bisa percaya melihat kondisi wanita yg ditemuinya setahun yg lalu.

"Jgn blg ibu tdk kenal saya. Saya pernah datang minum teh dgn almarhum suami ibu, ingat? Waktu itu saya mau menjual polis asuransi tapi ibu MENOLAK. Keesokannya almarhum membeli polis senilai 500 juta. Suami ibu meminta saya merahasiakan asuransi ini. Mulai sekarang ibu tak perlu kuatir lg. Kami akan menjaga ibu & anak ibu seperti yg kami janjikan pada almarhum".
Janda itu tidak bisa mempercayainya. Air mata kebahagiaan jatuh ke pipinya, ia berlutut & berterima kasih pada sang agen.                            Apakah anda salah satu org yg menolak agen asuransi seperti janda tersebut?
Ditulis oleh: Stash
« pada: 11 November 2013, 09:34:49 »

Mamaku kemarin dikirimi BM dari salah seorang agen asuransi. Malas nempel BMnya disini, tapi intinya, dia bercerita tentang sebuah keluarga biasa, lalu sang ayah meninggal, si istri sampai harus menggadaikan semua barang di rumah untuk membayar utang-utang. Dan suatu saat, ketika si istri sudah benar-benar tidak ada uang, ada orang asuransi datang dengan kabar gembira, bahwa suaminya ternyata ada mengambil asuransi, dan mulai sekarang, istrinya akan mendapatkan uang kematiannya.

Mirip sinetron ya. Sangat mengharukan sekali. Tapi bagaimana kalau aku kasih satu kisah nyata?

Omku yang sakit-sakitan, memutuskan mengambil asuransi jiwa yang agak mahal, dengan pikiran ketika dia meninggal, dia akan meninggalkan uang yang lumayan besar untuk istri dan anaknya. Polis per bulan yang harus dibayarkan sebesar 10 juta. Setelah 8 bulan berjalan, eh istrinya sakit parah, sehingga akhirnya semua uang harus dihabiskan untuk pengobatan sang istri. Sayangnya, tanteku itu meninggal dunia. Bagaimana nasib polis omku? Hangus, karena dia tidak lanjut membayar. Bagaimana nasib uang 80 juta yang sudah dibayarkannya? Lenyap ditelan bumi.

Jadi apa benar asuransi sahabat kita? :D
Ditulis oleh: Stash
« pada: 29 Oktober 2013, 01:37:14 »

Atau responku

Kutip
Jadi dalam 1 tahun, boleh ya tiap hari ke dokter? Gak perlu mikirin biaya kan?

Sakit sariawan, ke dokter. Mencret2, ke dokter. Tangan kepotong pisau, ke dokter
anything