Tulis jawaban

Peringatan: topik ini belum dituliskan setidaknya 120 hari.
Kecuali Anda yakin ingin menjawabnya, harap pertimbangkan untuk memulai sebuah topik baru.
Nama:
Email:
Subyek:
Tags:

Seperate each tag by a comma
Ikon pesan:

Anti-spam: complete the task

jalan pintas: tekan alt+s untuk mengirim/menulis atau alt+p untuk meninjau


Ringkasan Topik

Ditulis oleh: Stash
« pada: 03 Maret 2008, 12:17:57 »

Penelitiannya itu tahun lalu, tapi baru diumumin sekarang....
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 03 Maret 2008, 12:01:28 »

Tahun lalu kok penelitiannya baru tahun ini, telat :D

Iya ponakanku minum susu kemasan, tapi sejauh ini nggak ada keluhan apa-apa tuh...
Ditulis oleh: Stash
« pada: 02 Maret 2008, 11:36:39 »

Masalahnya ada balita yang tahun lalu didiagnosis terkena bakteri ini.

Iya sih, aku rasa IPB terlalu cari sensasi. Kalau memang gak mau umumin ke masyarakat, kan tinggal kasih daftarnya ke BP POM atau depkes. Beres kan? Tapi sekarang kesannya kok tarik ulur gitu....

Exshan, ponakanmu minum susu kemasan gak?
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 02 Maret 2008, 08:52:18 »

Tahu ya? Ini nama bakteri yang akhir-akhir ini populer "berkat" pengumuman penelitian IPB. Info lebih lengkap cari sendiri yah, Wikipedia adanya stub...

Sori, bukannya melecehkan, tapi menurutku IPB terlalu cari sensasi. Kenapa?

1. Nama produk-produk yang tercemar bakteri tidak diumumkan.
Ya memang sih mungkin saja ada kode etik penelitian, tapi kalau ini menyangkut kepentingan umum, why not? Produsen yang nama produknya disebut tentu malah senang, ada masukan tentang produknya, jadi mereka bisa memperbaiki kualitas produk. Ini menurutku kesalahan terbesar dalam penelitian IPB yang efeknya malah meresahkan masyarakat dan merugikan para penjual susu formula (kabarnya turun 80%).

2. Sampelnya tidak valid.
Seingatku, sampelnya hanya 70, itupun diambil tahun 2003, jadi katanya sudah tidak beredar lagi. Kurang kerjaan kah mempublikasikan penelitian pada produk yang sudah tidak edar? Gunanya apa?

Seharusnya, kalau memang ini penelitian ilmiah, lebih baik dipublikasikan ke jurnal ilmiah (tapi sayangnya kita nggak punya, setahuku). Media massa juga punya kebiasaan buruk melakukan blow up hal-hal yang dianggap potensial meresahkan masyarakat...