Tulis jawaban

Peringatan: topik ini belum dituliskan setidaknya 120 hari.
Kecuali Anda yakin ingin menjawabnya, harap pertimbangkan untuk memulai sebuah topik baru.
Nama:
Email:
Subyek:
Tags:

Seperate each tag by a comma
Ikon pesan:

Anti-spam: complete the task

jalan pintas: tekan alt+s untuk mengirim/menulis atau alt+p untuk meninjau


Ringkasan Topik

Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 13 Mei 2009, 09:09:49 »

Benernya sih aku pingin main gamelan lagi, tapi nggak tahu mesti ke mana. Kalau aransemennya kreatif, harusnya bisa terdengar menarik. Rada miris aja sih kalau main Secret of Mana, ada BGM yang nuansanya Bali banget kan... apalagi di DDR 8th mix jelas-jelas ada lagu yang judulnya Gamelan de Couple.

Sayang banget bahwa alat musik negeri sendiri malah digemari di negara orang tapi tidak di negara sendiri...
Ditulis oleh: Autobahn
« pada: 13 Mei 2009, 08:47:37 »

You got the point.

kita aja sebenarnya malah cuekin kebudayaan sendiri lho kebanyakan.
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 13 Mei 2009, 08:37:10 »

Masalahnya semakin ke belakang dari deretan bidang yang diusulkan itu, orang dewasa Indonesia kebanyakan nganggapnya semakin nggak penting :P soalnya masalah mendasar saja belum tuntas sih... mau memenuhi kebutuhan pokok saja masih susah, sudah mau memenuhi kebutuhan tersier, jauh amat lompatnya :D

Walaupun sebenarnya yang diabaikan itu potensinya aku lihat besar sekali, apalagi kebudayaan. Sudah berapa kali kebudayaan kita dicuri Malaysia? Malah mereka berani memproklamasikan diri sebagai Truly Asia, yang aku nggak percaya blas ;D Indonesia-lah yang Truly Asia, karena di sini semua suku bangsa ada. Gitu ya gak dimanfaatkan dengan baik, andalannya cuma Visit Indonesia Year...
Ditulis oleh: Autobahn
« pada: 13 Mei 2009, 08:19:42 »

Aku ingin memajukan Indonesia di bidang Kebudayaan, pendidikan, pembangunan / Arsitektur, Art, komik, novel,  Animation, Technology / Science dan Video Game.

Asyik sih, kan semua orang suka yang beginian kadang
Ditulis oleh: caktho
« pada: 23 September 2008, 12:26:24 »

kebanyakan politik ah,
mending sektor pendidikan dan industrinya yg dibuat maju
kan kasihan mahasiswa jurusan teknik, setelah jadi sarjana
eh kerja di perusahaan asing, ga gunanya untuk Indonesia.
Kalo Indonesia punya bidang industri (misal kendaraan bermotor atau mesin pabrik) yg pegawainya berstatus pns pasti asyik.
Bisa dapat penghasilan negara sekaligus mengurangi pengangguran.
Ditulis oleh: Stash
« pada: 24 April 2008, 03:32:01 »

Hmm.. sebenarnya sih cara di china bisa kita tiru, seperti usulmu, yaitu dihukum di muka umum, tanpa pandang status. Dengan gitu, para pejabat mana berani bermain KKN?

Dan yang penting tuh sebenarnya bagaimana masyarakat kita memandang KKN. Aku ada kesan, masyarakat kita sdh terlalu sering melihat KKN, sehingga mereka terkesan biasa saja dengan yang namanya KKN. Contoh: kalau ketahuan ada anak cewek yang hamil di luar nikah, wah keluarganya pasti malu sekali, bahkan mungkin diusir dari rumah. Coba saja lihat kalau ada orang tua yang anaknya KKN 1 trilyun rupiah. Atau jangankan ortunya lah. Kadang media membuat mereka menjadi artis, bukan menjadi penjahat, sehingga masyarakat bukannya membenci para koruptor, tapi masyarakat menjadi seakan-akan memaafkan tindakan mereka. Apa pernah dengan orang yg KKN diusir dari lingkungan tinggalnya?
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 24 April 2008, 01:33:33 »

Jawabanmu barusan energi negatifnya besar sekali... Oke, aku peringan kasusnya supaya energinya berkurang, walaupun terpaksa idealis dikit (hey, this is If only, right?). Anggap tidak terjadi penyimpangan pada usulan kita. Atau, kalau tidak mau idealis, pikirkan juga apa yang akan dilakukan kalau terjadi penyimpangan, mungkin termasuk bagaimana caranya supaya mental itu menghilang dari aparat negara.
Ditulis oleh: Stash
« pada: 23 April 2008, 01:01:49 »

Percuma saja. Kita bisa sediain 1000 usul, cuma akhirnya semua kembali ke pelaksananya, apakah mereka tegas atau gak...
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 23 April 2008, 12:23:25 »

Aku kok mendadak dapat ide yang agak radikal :P

Tentang kriminalitas, sepertinya efek jera perlu diperkuat. Sudah banyak kan napi yang masuk-keluar penjara? Sepertinya karena hukumannya tidak terlalu berat. Jadi, usulku, tambahkan hukuman yang kira-kira membuat pelaku kriminalitas jera dan orang lain jadi tidak berani untuk melakukan hal yang sama. Misalnya, eksekusi hukuman mati di depan umum, hukuman berlapis yang tidak terbatas (jadi bisa seperti di Amerika, hukumannya bisa mencapai ratusan tahun), hukuman fisik (misalkan pemerkosa dikebiri, atau banyak masyarakat yang minta supaya dipotong saja "anunya" :P), hukuman mental (dimasukkan ruang gelap selama beberapa hari), dll.

Asalkan pengadilannya juga beres, kalau ada main-mainnya ya sama saja...
Ditulis oleh: Stash
« pada: 14 April 2008, 06:13:23 »

Gitu deh. Selama politisi lupa kalau yg mereka lakukan akan merugikan anak cucu mereka, ya kita akan susah maju...
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 13 April 2008, 11:45:11 »

Belum tentu, kalau dialog tapi kepalanya lagi panas ya sama saja :D

Aku lupa baca di mana, tapi salah satu kenyataan yang nggak bisa dihindari adalah... Uang itu segalanya :P
Ditulis oleh: Stash
« pada: 13 April 2008, 11:16:12 »

Kita dulu mendapat pelajaran yg banyak kan dari kasus YGOCI? Mau coba buat 1 komunitas lagi? :D

Sebenarnya semua hal bisa diselesaikan dengan dialog. Apa gunanya kita dikasih otak kalau ternyata menyelesaikan masalah dengan cara berantem? Gak beda dengan hewan....

Di elit politik sekarang, uang terlalu berbicara. Hal yg di depan mata salah, bisa dianggap benar, asal kantongnya makin tebal... Pake sistem cina yuk, tembak mati koruptor...
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 13 April 2008, 11:08:23 »

Kalau negara agama, aku maklum kalau ada satu agama dominan. Kalau bukan, aku nggak maklum ;D

Ada satu lagi ideku. Kalau mau membuat keputusan, sosialisasi harus jelas dan menyeluruh sebelum keputusannya diberlakukan. Seperti tarif disinsentif PLN, mana ada edarannya dari PLN... yang memberi perhitungan tarif kan malah media massa. Lalu, kalau menyelesaikan masalah, jangan memberantas gejala-gejala yang timbul saja, tapi akar permasalahannya tidak disentuh. Jadinya seperti kasus Fitna sekarang...

Tapi memang lebih gampang ngomong daripada dilakukan :P
Ditulis oleh: Stash
« pada: 13 April 2008, 11:01:24 »

Kalau ada 1 agama dominan, masih wajar lah. Yg gak wajar tuh kalau semua tindakan harus mengatas namakan agama yg dominan itu, seakan-akan agama lain gak dianggap. Dominan boleh, tapi harus toleran dong.
Ditulis oleh: Èxsharaèn
« pada: 13 April 2008, 10:46:52 »

Ideku baru satu yang terpikir...

Menyatukan semua nomor telepon layanan publik (Telkom, PLN, PDAM, kantor polisi, PMK, rumah sakit, dll.). Biar nggak ribet ngapalinnya :P

Dan harus bebas pulsa ;D juga harus bisa diakses via HP dan telepon umum.

Tapi aku rasa ada satu hal lagi yang harus dihilangkan dari urusan negara: SARA, terutama agama. Katanya negara multikultural, kok ada satu agama yang dominan...
anything