RPG Fantasy Web Indonesia Forum

The Flying Widow Bar => Contro-Verse => Topik dimulai oleh: Stash pada 15 Mei 2008, 08:58:28

Judul: Film komedi seks = mendidik atau menjerumuskan???
Ditulis oleh: Stash pada 15 Mei 2008, 08:58:28
Topik ini aku buat sehubungan dengan kejadian baru-baru ini dimana akhirnya film ML (mau lagi) yang sudah banyak beredar dan diprotes di media internet, akhirnya muncul juga di layar infotainment. Pihak LSF yang terus didemo akhirnya bersedia mensensor ulang film tersebut. Malah setahuku ada anggota LSF yang dengan ekstrim meminta film ML ini tidak ditayangkan sama sekali.

Mau tahu sebuah fakta lucu? Shanker selaku produser berkata bahwa film ini bertujuan untuk edukasi seks. Tapi anehnya, Ferry Irawan selaku associate producer sekaligus pemain film tersebut menganggap film ini bukan bertujuan edukasi seks, tapi mau mengangkat kisah nyata yang terjadi di masyarakat. Nah lho, kok bertolak belakang???

Mungkin pihak shanker perlu baca artikel berikut. Aku ambil dari sini (http://hotarticle.org/tayangan-pornografi-pancing-tindakan-seksual/)
Kutip
Para orangtua perlu ekstra hati-hati karena tayangan pornografi di televisi ternyata memancing hasrat melakukan tindakan seksual. Penelitian di Kota Palembang, Sumatera Selatan, 77 persen responden menyatakan terpancing hasratnya melakukan tindakan seksual setelah menyaksikan adegan pornografi. Di Semarang, Jawa Tengah, sebanyak 63 persen responden.
Peneliti Senior dalam Bidang Komunikasi dan Opini Publik Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof Rusdi Muchtar MA, mengemukakan hal itu, Sabtu (2/2) di Jakarta.

“Timbulnya kasus-kasus seputar kehamilan tidak dikehendaki di kalangan remaja, kekerasan seksual, penyakit menular seksual pada remaja, bahkan aborsi, tak lepas dari dampak tayangan pornografi di televisi,” katanya.

Hasil penelitian realitas subyektif ini seakan menegaskan, tayangan televisi kita sekarang ini dapat membentuk budaya massa yang cenderung negatif.

Menurut Rusdi, kasus yang cukup serius adalah berhubungan seks di luar nikah. Oleh remaja elite lebih tinggi persentasenya, yakni 4 persen, dan remaja nonelite 2 persen. Sementara dewasa elite dan non-elite sama-sama 1 persen. Tontonan itu juga menyebabkan ketagihan menikmati tayangan porno.

Penelitian yang dilakukan Rusdi Muchtar bersama Masayu S Hanim, Rochmawati, dan Santi Indra Astuti tahun 2006 itu juga mengungkap betapa responden lebih terbuka mengungkapkan keterlibatan mereka.

Tegakkan fungsi sosial Peneliti merekomendasikan perlunya kesadaran bersama untuk menegakkan fungsi sosial media massa, khususnya televisi, sehingga televisi tidak menjadi sumbat yang gagal mencerdaskan masyarakatnya.

Oleh karena itu, perlu upaya media literacy (melek media) untuk mengatasi picture illiteracy (buta media) dan meningkatkan kekritisan masyarakat.

Langkah ini diperlukan terutama ketika intervensi negara dikhawatirkan mengembalikan rezim otoritarianisme dalam mengatur media.

Tentu saja, tidak semua kontra dengan film ini. Banyak juga yang pro, walau alasan mereka klise banget.
1. Bagus untuk edukasi seks
2. Menunjukkan jeleknya seks bebas

Yang aku herankan, di TV sudah terlalu banyak siaran yang menunjukkan orang-orang AIDS yang sekarat, banyak anak gadis yang masa depannya hancur karena seks bebas, dll, toh seks bebas masih marak tuh, padahal kalau kita lihat tayangannya dan baca beritanya, serem sekali!!!! Nah, bagaimana mungkin sebuah film yang menunjukkan seks seakan sebuah trend gaya hidup anak muda, bisa membuat orang menjadi takut akan seks bebas?? Sebuah pemikiran yang gak masuk akal menurutku.

Kenapa gak jujur aja sih kalau film ML ini emang dibuat karena emang masyarakat lagi mengandrungi film genre begitu? Setahuku film american pie emang dibuat karena sesuai minat pasar di amerika dan eropa, gak ada tuh niat menjadikan film itu untuk edukasi seks dll. Jangan samakan disana dan disini dong...
Judul: Re: Film komedi seks = mendidik atau menjerumuskan???
Ditulis oleh: Èxsharaèn pada 15 Mei 2008, 03:15:33
Membaca judulmu, aku mengalami déja vù. Kayanya kok pernah baca judul itu :P

Bukannya mau menyanggah, tapi aku sangsi dengan penelitian itu, karena datanya kurang sekali. Misal, 77% responden di kota Palembang menyatakan terpancing melakukan tindakan seksual setelah menyaksikan adegan pornografi. Berapa jumlah 100%-nya? Kalau hanya 10, jelas penelitian itu tidak sah karena tidak mewakili populasi keseluruhan. Lalu, seberapa besar jangkauan umur yang diteliti? Apakah hanya remaja? Atau sampai orang dewasa? Jenis kelamin yang diteliti, berapa besar komposisinya antara laki-laki dan perempuan? Tingkat pendidikan? Pekerjaan? Tingkat sosial ekonomi? Adegan pornografi seperti apa yang mereka tonton? Seberapa sering mereka menontonnya? Didampingi orang dewasa atau tidak? Tindakan seksual itu yang seperti apa? Sampai hubungan badan kah? Di luar nikah atau tidak? Atau sebatas fantasi seks atau masturbasi/onani? Kalau yang terakhir jawabannya, aku rasa angka itu wajar sekali (coba baca Wikipedia Inggris tentang masturbasi, angkanya jauh lebih fantastis sekali di sana) dan dengan demikian kesimpulan yang ditarik menjadi tidak sah.

Nah kan malah muncul banyak pertanyaan dari pernyataan satu baris saja. Coba hitung ada berapa baris di kutipan itu, aku bisa memunculkan pertanyaan di tiap baris :D

Anyway, kembali ke topik. Kapan hari aku baca rol film ML dipotong 15 meter saking banyaknya adegan yang tidak layak tonton. Aku nggak tahu apa sebenarnya tujuan film ML dibuat, apakah untuk edukasi seks atau hanya komedi seks saja. Nah, nggak bisakah film itu diberi label D? Tinggal pengelola bioskop yang mempertegas penonton yang mau beli tiket film ML. Kalau akhirnya film itu edar dalam bentuk DVD dan dibajak, ya entah bagaimana lagi risikonya, toh DVD porno juga masih beredar luas saja belum teratasi. Bioskop pinggiran pun bisa memutar film biru selain ML tanpa kena protes besar-besaran.

Bukan berarti aku mendukung komersialisasi urusan selangkangan, tapi intinya, mengapa hanya mengatasi masalah yang muncul di permukaan saja, padahal gunung es yang ada di bawah jauh lebih besar? Dan konyolnya, selama ini itulah yang terjadi. Beberapa bulan lagi pasti masalah ini adem ayem hilang ditelan bumi tanpa ada penyelesaian konkrit sebelum perusahaan perfilman lain memutuskan membuat sensasi yang sama.

Kutip
Yang aku herankan, di TV sudah terlalu banyak siaran yang menunjukkan orang-orang AIDS yang sekarat, banyak anak gadis yang masa depannya hancur karena seks bebas, dll, toh seks bebas masih marak tuh, padahal kalau kita lihat tayangannya dan baca beritanya, serem sekali!!!!

Ini karena sudah dari sononya kita punya sifat ingin coba-coba. Coba kamu lakukan "penelitian" yang sama denganku beberapa waktu lalu (kalau berani di Kanada nanti ;D), kamu akan menemukan bahwa sebenarnya pelaku seks bebas juga sadar akan bahaya AIDS dan PMS (coba saja ke Dolly dan tanyakan ke beberapa WTS, sebagian dari mereka akan menjawab sadar). Tapi kenapa tetap dilakukan?
1. Enak (karena sudah mencoba).
2. Ada celah 1% bahwa AIDS dan PMS itu bisa dihindari. Tahu dengan apa? Safe sex.
3. Ingin tahu rasanya (biasanya remaja).
4. Terpaksa (lha ini kalau kasusnya jual diri alias masalah ekonomi).

Tapi lebih lanjut mengenai ini dibahas di topik sendiri saja :)

EDIT:
OoT... Ternyata separuh terakhir judul itu kamu ambil dari judul topikku dulu toh (yang kebetulan sekali bertolak belakang dan gemanya sudah hilang) tentang sinetron religi. Pantesan kok rasanya aku pernah baca ;D
Judul: Re: Film komedi seks = mendidik atau menjerumuskan???
Ditulis oleh: Stash pada 15 Mei 2008, 05:05:36
Oh ya? Aku kok lupa ya? Judulnya asli ideku lho :D