Penulis Topik: Chapter 5: The Great Summoner  (Dibaca 2127 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Èxsharaèn

  • Pölisia mar Ranch-i-ru
  • Administrator
  • Lv 9 Petualang senior
  • ************
  • Tulisan: 5.650
  • Karma: 8
  • Jenis kelamin: Pria
  • Veni, veni, venias; ne me mori facias...
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • RPG Fantasy Web Indonesia
Chapter 5: The Great Summoner
« pada: 20 Juni 2007, 12:05:16 »
Bab ini akan menjelaskan sedikit tentang Quésha, salah satu tokoh cewek yang memiliki peran penting dalam Our Journey, yaitu sebagai salah satu dari Trihörrèan. Seperti apa kisahnya sebelum petualangannya dimulai?

Chapter 5
The Great Summoner


“Quésha!” terdengar suara lembut memanggilnya. “Quésha, ke sini sebentar!”

“Ya Bu, sebentar!” jawab Quésha dari ruang depan. Cepat-cepat ia melayani pembeli, lalu bergegas ke arah dapur. “Ada apa Bu?”

“Bantu Ibu menyalakan tungku api,” pinta sang Ibu. “Ibu harus menimba air di sumur belakang untuk masak.”

“Lho, memangnya adik ke mana? Quésha masih ada pembeli di depan.”

“Adikmu sedang pergi berbelanja, Ibu yang suruh. Sebentar saja kok.”

“Ya Bu.” Dengan patuh Quésha membantu menyalakan api di tungku. Ia memanggil Phõênix(1), dan burung api itu segera muncul. “Ada apa kau memanggilku?” tanyanya.

“Bantu menyalakan api di tungku dong!” pinta Quésha.

“Cuma itu? Kau memanggilku cuma untuk itu?” tanya Phõênix sedikit sinis.

“Tak ada laki-laki di rumah. Aku tidak bisa menyalakan api di tungku.”

“Kalau begitu, kau harus belajar menyalakan api sendiri. Jangan karena hal-hal sekecil ini kau memanggilku. Kan kau masih bisa melakukannya sendiri,” kata Phõênix bijak.

“Iya deh, kalau begitu ajari aku caranya,” rajuk Quésha. Sekarang malah Phõênix yang kebingungan. Bagaimana caranya manusia menyalakan api? Ia tak bisa memeragakan caranya. Apalagi apapun yang ia sentuh akan terbakar. Bagaimana enaknya?

“Jujur,” sang Phõênix mengakui, “aku tak tahu caranya. Oke lah, kali ini kubantu, tapi lain kali lakukan sendiri ya!” Lalu ia menghembuskan sedikit napas api ke tungku, dan kayu-kayu itu pun terbakar. “Aku akan cari tahu caranya, tapi kalau bisa kau harus belajar dari adik atau ayahmu cara menyalakan api. Janji?”

“Janji,” kata Quésha sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V dan mengedipkan matanya.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Panggil aku lagi kalau ada perlu, tapi yang penting-penting saja.” Phõênix itu menundukkan kepalanya dan Quésha mengelus-elusnya sebentar—begitu caranya Phõênix itu pamit—dan Phõênix itu menghilang sekejap dalam bola asap. Quésha pun menunggu ibunya kembali, dan segera kembali ke toko.

Kutip
(1) Dibaca /’fi.niks/, burung mistis yang sudah dipercaya turun-temurun ini termasuk hewan mistis langka yang dilindungi. Bulunya dikatakan terbuat dari api, itu sebabnya Phoenix berwarna merah. Air matanya dipercaya berkhasiat menyembuhkan—baca juga buku referensi. Beberapa RPG menggunakan istilah Phoenix Down untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati, namun kebenaran hal ini dalam dunia nyata masih diragukan, walau banyak juga yang percaya. Dalam RPN ini, Phöênix adalah Guard-i-ru (Guardian) Fir yang sedikit berelemen Lír karena kemampuan menyembuhkannya itu.
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
WAYN http://Exsharaen.wayn.com
About.me http://about.me/hoshiro.exsharaen

Offline Èxsharaèn

  • Pölisia mar Ranch-i-ru
  • Administrator
  • Lv 9 Petualang senior
  • ************
  • Tulisan: 5.650
  • Karma: 8
  • Jenis kelamin: Pria
  • Veni, veni, venias; ne me mori facias...
  • Bergabung sejak: 14/10/2006
    YearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYearsYears
    • RPG Fantasy Web Indonesia
Kehidupan seorang gadis
« Jawab #1 pada: 20 Juni 2007, 12:06:58 »
Itulah salah satu sisi kehidupan Quésha sebagai seorang Summon-i-ru. Ia bisa memanggil hampir semua roh dari ketujuh elemen yang ada—kecuali roh berelemen Dâr tentu saja, karena roh macam itu pasti sulit dikendalikan. Ia dilahirkan pada tanggal 25 bulan 7 tahun 154800 H.R. di Irin Moríth, sebuah desa kecil 320 km sebelah barat daya ibukota. Ia tinggal di desa itu sejak lahir hingga kini bersama ayah ibu, adik laki-lakinya, dan beberapa ekor hewan peliharaan. Semua orang dalam keluarganya mampu menggunakan sihir. Konon ini didapat karena ayah dan ibunya berasal dari galur murni penyihir. Walau begitu, mereka tidak menggunakan sihir untuk kepentingan diri mereka sendiri. Mereka lebih sering menggunakannya untuk kebaikan. Itulah sebabnya keluarga mereka disukai dan disegani semua orang di desa itu.

Sewaktu berumur 12 tahun, tanpa sengaja ia memanggil roh penguasa air, Léviathân, saat desa mereka diserang Will-o-whísp, makhluk berbentuk bola api. Sejak itulah ayah ibunya mengetahui potensi terpendam dalam diri Quésha dan mulai mengajarinya memanggil roh-roh yang lain di samping mengajarinya sihir. Dalam waktu lima tahun ia berhasil menguasai empat roh: Léviathân (Wâr), Phõênix (Fir), Thûrnâth (Ær), dan Titân  (Éar). Itulah sebabnya elemen Quésha menjadi netral karena pengaruh keempatnya.

Umur 17 tahun ia hendak mendaftarkan diri sebagai seorang Summon-i-ru-èn dengan sècondari i karsh Sörcerr-i-ru-èn dan xandhium i karsh Parch-arimus i kar-i-ru. Keluarganya baru-baru ini membuka sebuah toko buku di samping rumah, dan Quésha lebih banyak menjaga toko saat ia tidak ada pekerjaan. Ia sudah menyelesaikan pendidikan sekolahnya dan sempat bingung, apakah ia akan meneruskan pendidikannya di ibukota atau bekerja membantu orang tuanya, namun akhirnya ia memutuskan untuk tetap di desanya untuk membantu orang tua, apalagi ia belum sepenuhnya menguasai ilmu sihir yang dimiliki ayah ibunya.

Akibat pengaruh karsh Summon-i-ru-èn dan Sörcerr-i-ru-èn, kekuatan magisnya menjadi amat besar dengan MP yang menakjubkan. Sebagai konsekuensinya, kekuatan fisiknya menjadi amat lemah. Kelak ia akan menjadi yang terlemah di antara kawan-kawan satu kelompok. Ia juga termasuk yang paling pelan. Ia hampir tak pernah marah, sehingga teknik IP tak berlaku untuknya. Entah suatu saat nanti...

Summöna é Quésha il dûrith Humani sörcèrr-i-ru-èn
Valhâlla in fusnain-muön torréan qavgho fas
Innishallarân för il dharkhan
Morön hun zhaémun quiön vash in crèst.

Quésha sang Summön-i-ru-èn, penyihir Humani yang luar biasa
Belajar selama tigapuluh satu tahun, tak pernah jemu-jemu
Semua dikuasainya; kuasa kegelapan ‘kan ditundukkannya
Sifat-sifat buruk tak pernah menguasainya, kecuali satu.


Chapter 5 - Fin
Jangan lupa ikutan serunya petualangan Our Journey!
~ A, èxshna il utnön qu our journey shallaran a èndh... ~

Profiles
WAYN http://Exsharaen.wayn.com
About.me http://about.me/hoshiro.exsharaen

Tags: